#fiksinely
Mang Asep
Aku
ingat betul bagaimana sosok Mang Asep itu, sama ia juga kuanggap seperti Ayah,
karena aku adalah anak yatim yang ditinggal Ayahku saat kelas 6 SD. Aku
mengenal Mang Asep saat ia datang menjemput Lauren di Sekolah Waktu itu. Ia
juga menjemput dan mengantarku pulang bersama Lauren. Orang pikir kami ini
anaknya Mang Asep. Sebenarnya Mang Asep Duda gak punya anak, istrinya meninggal
diusia pernikahan mereka yang masih 5 tahun. Istrinya sakit kanker hati. Waktu
itu Mang Asep miskin tidak mampu membawa istrinya kerumah sakit untuk
menyembuhkan penyakit istrinya. Sepeninggal istrinya, Mang Asep sangat frustasi
dan merasa bersalah karena tidak mampu membawa istrinya berobat. Baginya
kemiskinannya menjadi penyebab kematian sang istri. Mang Asep menjalani
hidupnya tanpa semangat hidup, bahkan pernah ia berniat bunuh diri lantaran
tidak sanggup lagi hidup dalam kemiskinan dan keterpurukannya. Untung saat itu
ia diselamatkan oleh Ayah Lauren, Pak Wisnu. Diajaknya Mang Asep bekerja
dirumah Lauren, waktu itu masih jadi tukang kebon, kemudian diajari cara
menyetir mobil dan jadilah ia seorang supir pribadi keluarga Ayah Lauren.
Aku
ingat betul waktu itu ada acara hari Ayah disekolah. Kami disuruh membawa Ayah
masing-masing kesekolah untuk memperingati hari ayah. Karena saat itu Ayahku
telah meninggal dunia, aku tidak membawa ayahku, ataupun orang lain untuk
kujadikan ayah pura-pura di hari itu. Lauren juga tidak datang bersama ayahnya
karena Ayahnya sedang keluar Kota waktu itu. Mang Asep pun berinisiatif menjadi
Ayah pura-pura buat kami, Bu Narti, Wali kelas kami tidak keberatan sama sekali
dia memaklumi kondisi kami masing-masing. Sejak saat itu aku sangat menyanyangi
Mang Asep.
“Kalo nanti butuh
Ayah lagi, panggil Mamang ajah yaa” kata Mang Asep dengan candanya saat
mengantarku pulang
Setiap
pulang sekolah Mang Asep selalu mengajakku dan Lauren ke penjual Es krim
langganannya. Es roti namanya, roti dibelah kemudian dimasukkan es krim ada
yang rasa Coklat, Strawberry, dan Kopi toppingnya susu dan seres. Aku dan
Lauren sampai nambah lantaran enaknya Es Roti itu. tak jarang sampai Mang Asep
selalu membersihkan seragam putih kami ketika susu coklat tumpah diseragam kami
sambil berkata begini
“Neng baju seragam
kok disusuin sih” sambil melap baju kami dengan sapu tangan lusuh andalannya
“Yee ini baju mau
juga kali makan Es Roti, soalnya Es Rotinya enak sih” jawab Lauren kala itu
menjilati Es Rotinya.
Mang
Asep tidak hanya baik, dia juga orang yang dermawan. Kalau beli Es Roti selalu
uangnya dilebihkan untuk Si Mas tukang es roti katanya itu uang buat nambahin
beli payung barunya mas tukang Ss Roti itu.
“Kasiaan payungnya
sudah pada sobek” kata Mang Asep.
Aku
belajar sifat dermawan saat kecil itu dari Mang Asep. Mang Asep juga
mengajarkan Lauren untuk menjadi dermawan, tidak pelit sama orang lain. Lauren
waktu itu bisa dibilang tidak diajarin hal-hal semacam itu dari orang tuanya
karena Ayahnya sibuk mengurus bisnis, Ibunya entah dimana keberadaannya setelah
bercerai dengan Ayah Lauren. Bisa dibilang Mang Asep dan Mbok Sri lah orang
tuanya ketika itu, mereka merawat Lauren kecil dan mengajarkannya sifat-sifat
terpuji. Kalau lihat Lauren sekilas mirip Mang Asep mungkin karena Mang Asep
yang mengasuhnya ya. Lauren jadi gadis pintar dan baik hati itu karena
didikannya Mang Asep. Ayah Lauren sangat berterima kasih kepada Mang Asep,
tanpa Mang Asep, Lauren mungkin akan tumbuh jadi gadis pemberontak. Maklum Ayah
dan Ibu Lauren bercerai saat ia berusia 5 tahun. Lauren tidak pernah kekurangan
kasih sayang, itulah sebabnya ia menjadi gadis yang penyayang. Waktu itu suatu
ketika aku melihat Lauren di bully oleh teman-teman tetangga rumahnya karena
Lauren tidak memiliki Ibu. Saat itu aku tertegun melihat Lauren membalas
seperti ini “Ayahku Mang Asep, Ibuku Mang Asep, aku disayang Ayah,Mang Asep,
Mbok Sri, dan Sahabatku Reva, kalian iri gak punya Mang Asep kan? Bilang sama
Ibu kalian Mang Asep bakalan tinggal dirumahku selamanyaaaaa tidak akan jadi
supir kalian” Diusianya yang masih belia tapi Lauren bisa berkata seperti itu,
kata-katanya sangat menohok namun ada kebijaksanaan didalamnya, inikah bukti
cinta Mang Asep kepada Lauren. Yang aku tahu dulu banyak sekali tetangga Lauren
yang menginginkan Mang Asep jadi supir mereka, karena Mang Asep baik hati, tidak
mempermasalahkan gaji walau gaji kecil.
Ku
ceritan tentang Mang Asep kepada Ibuku, Ibu selalu tertawa dan bersyukur aku
berteman denggan Lauren dan Mang Asep. Sampai-sampai Ibu pernah membuatkan
bekal untuk Mang Asep dan Lauren makanan kesukaan Lauren dan Mang Asep cumi
tumis dan cah kangkung. Aku bahka heran sampai sekarang kok Lauren dan Mang
Asep sama-sama favorit sama cumi tumis dan cah kangkung. Sudah seperti Ayah dan Anak saja.
Sampai
kuliah pun Aku dan Lauren masih diantar jemput oleh Mang Asep. Padahal aku
sudah punya mobil sendiri dan Lauren pun bisa menyetir juga. Mang Asep melarang
Lauren menyetir sendiri takut ada apa-apa apalagi setelah kecelakaan, Mang Asep
jadi super overprotective. Bahkan Lauren
selau dibawakan bekal katanya makan jajan sembarangan bisa bikin ingatan Lauren
tidak pulih. Masakan Mbok Sri bukan makanan semata tapi juga obat untuk Lauren
agar ingatannya pulih. Saat mulai kuliah, aku meminta Mang Asep untuk tidak
usah mengantarjemput aku lagi .Aku kasihan Mang Asep yang sudah semakin tua, nanti
kecapean alasanku seperti itu ketika ditanyai Mang Asep kenapa tidak mau lagi
diantar jemput. Waktu aku bilang seperti itu Mang Asep tampak sedih. Yahh
maklumlah dari SD sampe sekarang diantar jemput tiba-tiba aku meminta untuk
tidak mau lagi diantar jemput. Tapi bukan Mang Asep namanya bila tidak kocak.
“ Ya udah deh Mbak,
Kalau Mbak Reva punya pacar bawa ke saya dulu, biar Ayah seleksi dulu” sambil
menunjuk dirinya
Mendengar kata “Ayah”
dari mulut Mang Asep hampir membuat air mataku berlinang. Meski kuanggap Ayah
tapi kata-kata yang keluar dari mulut Mang Asep itu begitu menyentuh, sangat
menyentuh, deep to the the heart
banget
“ Sip Ayah” jawabku
dengan tawa
Sudah tak adalagi Ayah Asep, sudah pergi. Tidak lagi yang akan mentraktir kami Es Roti, yang mengantar jemput, yang menemani kami ke mall memilih baju. Ooh berat tanpa Mang Asep. Ku sadari Lauren lebih berat menerima keaadaan ini. Mang Asep lebih dekat dengannya dibandingkan Ayahnya sendiri. Mang Asep bukan hanya sopir pribadi baginya melainkan, Ayah, guru, dan teman. Kenangan tentang Mang Asep Lauren simpan didalam sebuah lemari khusus yang ia namai “Kenangan Mang Asep tercinta”. Baju, Foto, benda kesayangan Mang Asep, Lauren simpan dalam lemari khusus itu, begitu pula dihatinya selalu tersimpan kenangan bersama Mang Asep.
Mimpi yang Sama
“Wah gila loe, loe mau disemprot sama
istrinya tuh orang” teriak Lauren menunjukku dengan tatapan marah tapi buatku
itu lucu
“Weehh woles dong
loe, gue itu cuma diajak makan siang sama Pak Raffi itupun Cuma bahas masalah
penelitiannya” jawabku
“Gue tahu banget, tuh
Pak Raffi naksir loe, dia itu udah dua kali nge Whatsapp gue minta nomor loe tapi gak gue kasih, gue bilang loe gak
punya handphone, loe minjem HP gue buat gaya-gayaan didepan teman-teman”
“Wah gila lu Ren, gue
minjem hp loe? hmmm,,,hahahah loe irikan
kan sama gue dinaksir sama dosen favoritnya cewek-cewek di fakultas ini, gue
tahu loe ya yang suka sama Pak Raffi, loe mo pacarin dia supaya nilai loe A
plus kan?”
Aku tahu Lauren akan
langsung menimpukku dengan buku ditangannya karena candaan recehku itu, ku putuskan
lari dan mengambil semua bukuku sebelum wajahku ditampok. Dan benar saja, dia
mengejarku seperti mengejar maling. Begitulah kami seperti kucing dan tikus
saling nonjok, pukul tapi itulah yang mempererat hubungan kami hingga sekarang.
Kak Gilang bahkan iri dengan kedekatanku dengan Lauren yang sudah bisa dibilang
“pacaran”. Lauren selalu mencium pipiku ketika gemas atau ketika sedang ingin menjahiliku.
Biasanya kubalas dengan menggigit lengannya jika aku sedang asik membaca
tiba-tiba ia sodorkan bibirnya yang penuh lipstick itu kepipiku. Tak jarang
teman-teman sekelas memperhatikan kami sambil geleng-geleng kepala. Mungkin ada
perasaan jijik saat melihat kami.
Sudah
dua minggu Mang Asep meninggal, Lauren malah diantar jemput oleh Kak Gilang.
Lauren tidak berani menyetir mengingat petuah Mang Asep. “Jangan nyetir Mbak,
nanti ada apa-apa dijalan, Mbak kan orangnya gak hati-hati” pesan Mang Asep.
Siang ini Lauren dijemput Kak Gilang menggunakan motor matic. Seperti biasa
Lauren langsung mencariku dikelas, kukira dia akan menyodorkan bibirnya lagi
dipipiku tapi kali ini dengan wajah seriusnya ditariknya kursi menghadapku.
“Va, gue habis mimpi
itu lagi semalam”
“Mimpi yang mana?”aku
sibuk mengunyah roti isi buatan Ibuku
“Mimpi ketemu nenek
tua itu lagi, gue diberitahu bakalan ada lagi yang meninggal”
Langsung kutelan roti
dalam mulutku, sisanya kusimpan diatas bukuku. Sejak terbuktinya mimpi Lauren,
aku jadi serius jika ia bercerita tentang mimpi nenek tua itu lagi.
“Be…beneran loe?
Sekarang yang meninggal siapa?”nada suaraku memelan takut teman-teman mendengar
obrolan kami
Lauren diam sejenak,
menatapku dalam
“Pak Raffi,Va”
Aku sontak kaget
hingga kujatuhkan roti isi buatan ibu yang super lezat itu. Sekilas kulihat
kelantai terbuang sayang namun cerita Lauren lebih penting dibandingkan roti
isi itu.
“Loe gak sedang
ngerjain gue kan Ren, gue tahu loe lagi bohongin gue karena masalah makan siang
waktu itu kan sama Pak Raffi? Sumpah gue gak ada hubungan sama Pak Raffi”
“Gue serius,gue
bahkan gak tidur habis mimpi semalem,gue takut banget”
“Trus, loe lihat
sebab kematiaannya apa?”
Lauren menggeleng,
seperti mimpi sebelumnya hanya sosok orang yang meninggal saja yang diketahui.
Penyebab kematiannya tidak terlihat jelas. Penyebab kematiannya diketahui
beberapa hari sebelum orang tersebut meninggal. Tangan Lauren gemetar, ada
ketakutan diwajahnya. Kupegang tangan Lauren dan berusaha menenangkan
pikirannya.
“Gue takut sama diri
gue sendiri, gue gak mau mimpi itu datang ke gue”
“Tenang Ren, kita
cari jalan keluarnya. Gimana kalau kita temuin Pak Raffi dulu?”
“Kalo kita nemuin Pak
Raffi kita mo bilang apa hah? Bilang kalo gue bisa lihat di bakalan
meninggal?”nada suara Lauren meninggi
Aku mengerti apa yang
dihadapi Lauren saat ini. Orang-orang pastinya tidak akan percaya dengan ucapan
Lauren. Pastinya mereka hanya menganggap itu omong kosong belaka bahkan mungkin
ditertawai atau dianggap otak sudah gesrek akibat kecelakaan 2 tahun lalu.
“Trus, loe mo diam
ajah gitu kayak gini?loe gak mau gitu hentiin semua ini?”
“Gue gak tahu harus
ngapain Va, gue juga bingung,gue syok. Kenapa mimpi itu jelas banget?”
“Loe tenang kita cari
info tentang Pak Raffi, entah dia sakit, entah dia punya musuh, ato apa kek”
Lauren hanya terdiam
matanya menatap tembok, pikirannya buyar. Aku tahu Lauren masih syok dengan
kejadian yang menimpa Mang Asep, juga mimpi yang diceritakan barusan. Aku
menemui Pak Raffi dengan alasan menanyakan kelanjutan penelitiannya, kami cukup
dekat sehingga aku tidak terlalu canggung jika menanyakan hal pribadi.
“Bapak pasti sibuk
banget ngerjain penelitian, Apa Bapak tidak sakit ngurusun semuanya?”
“Gaklah Reva,lagian
penelitian saya dibantu kamu jadi gak terlalu stress”
Pertanyaanku tidak
menjurus ke permasalahan yang aku ingin tanyakan
“Pak, akhir-akhir ini
Bapak terlihat kurang fit, memangnya Bapak sakit?
“Gak kok hanya
keletihan biasa juga begini”
Aku kehabisan
pertanyaan. Sebenarnya bisa saja aku bertanya lagi tapi takutnya tidak sopan
dan terkesan sok akrab. Setelah membahas masalah penelitian Pak Raffi aku pun
pamit dari ruangannya. Lauren berdiri didepanku tak kusadari ia membuntutiku ke
ruangan Pak Raffi.
“Loe ngikutin gue
ya?”
“Kampret suara loe
nyaring banget loe mo bikin ribut diruang dosen?”
Lauren menutup
mulutku dan menarik tanganku keluar.
“Udah kita ke Mall
ajah,gue mo beli jam buat Kak Gilang”
Lauren
tidak penasaran sama sekali dengan hasil pembicaraanku dengan Pak Raffi. Lauren
tidak punya pilihan lain selain menghibur dirinya seperti ini. Bukan Reva
namanya jika aku tidak mampu menangkap kegelisahan di wajah Lauren. Jujur aku
juga takut bagaimana jika suatu saat nanti orang yang dia lihat dalam mimpinya
yang akan meninggal itu adalah aku. Berat pastinya memberitahuku. Mungkin juga
dia tidak akan memberitahuku.
Setelah
makan siang di kantin kampus, Aku dan Lauran langsung berangkat menuju Mall
Bandung Indah Plaza. Tak banyak hal yang kami diskusikan dalam mobil. Biasanya
Lauren membahas Kak Gilang, kini ia diam sesekali menatap Handphonenya,
mengecek social media miliknya dan membalas chat. Tentunya aku tak mau suasana
terus menerus mencekam, Lauren itu kocak, that
is not Lauren banget diam-diam seperti gadis polos tak berdosa.
“Eh loe mo diem-diem
ajah nih, gue turunin loe dijalan nih”
“Yang lo turunin tuh
harga sembako, bukan gue”
Akhirnya Lauren
kembali ke mode berderingnya.
“Eh loe mo beliin jam
tangan apa sih buat pacar loe itu?kan bisa beli online”
“Mau gue beliin jam
dinding tapi dipasangnya ditangan, biar dia gak suka telat”
“Emang Kak Gilang itu
suka telat kekampus?”
“Bukan lagi telat, Va
dia itu aneh tahu gak sih, kalo jemput aku on
time, kalo masuk kuliah pas dosennnya udah keluar”
Aku
tertawa kecil tak kupandangi wajah cemberutnya Lauren. Aku fokus melihat
kedepan. Semenjak Mang Asep meninggal aku jadi super waspada jika mengantar
Lauren karena bagiku menjaga keselamatan Lauren adalah pesan dari Mang Asep.
“Va, gue rasa Desa Citatah
tempat kecelakaan gue waktu itu ada hubungannya deh sama mimpi gue”
“Maksud loe si Nenek
tua itu?”
“Ia mungkin ajah kan?
Nenek tua itu berasal dari Desa Citatah”
“Mungkin-mungkin ajah
sih tapi kalo mungkin ia kenapa dia masuk ke mimpi loe?”
Lauren
mengangkat bahunya. Entahlah itu benar atau tidak tapi mimpi Lauren selalu
buatku merinding. Sampailah kami di Mall Bandung Indah Plaza. Lauren bisa saja
membeli jam tangan mahal melalui olshop untuk Kak Gilang tapi Kak Gilang bukan tipe orang yang mau diberi
barang mewah dan mahal apalagi dari cewek. Kata Kak Gilang ke Lauren “aku tidak
akan menolak pemberian kamu tapi aku menolak barang mahal dan mewah. Tubuhku
hanya menerima barang yang dibeli dipasar dan masih menolerir barang yang
dibeli dari Mall” sungguh Kak Gilang orang yang sangat low profile
Kami
langsung melangkah ketoko jam tangan disebelah kanan pintu masuk. Kami fokus
kejam tangan pria, Lauren menunjuk merek Daniel Wellington, jam tangan yang
sedang in dikalangan milenial. Tanpa
berpikir panjang Lauren langsung membelinya. Lauren punya selera fashion yang
bagus. Siapa sangka gadis cantik,pintar,punya selera fashion yang bagus tapi
memiliki otak gesrek. Yah itulah Lauren baru 2 tahun terakhir. Sebelum
kecelakaan ia adalah Lauren yang sangat manis sifatnya seperti seorang Dewi
tidak kocak seperti sekarang. Setelah asik berkeliling Mall mencuci mata, kami
memutuskan untuk pulang.
“Gue mo ke toilet
dulu,keknya gue pengen pub deh”
Gadis ini memang
gila, ngomong hal kotor didepan umum. Kalau orang dengar apalagi cowok-cowok
langsung ilfeel deh,image feminim,kalem
dari wajahnya itu akan jatuh.
Hampir 20 menit
kutunggu Lauren, ia tak muncul juga
“Jangan-jangan dia
beneren pub lagi,terus pubnya keras” pikirku
Akhirnya ku samperi
Lauren di toilet.
“Ren, Ren”
Kulihat Lauren telah
tidak sadarkan diri. Ku goyangkan wajahnya,memanggil-manggil namanya
“Lauren.Ren”
Aku meminta tolong
seorang pria untuk menggendong Lauren dan membawanya ke ruang staff Mall,
kugosokkan minyak kayu putih dihidungnya. Lauren menggerakkan matanya tanda
sudah mulai sadar.
“Ren,Ren ini gue
Reva”
“Ia gue tahu, setan
juga tahu kali Va”
Candanya kambuh
berarti Lauren telah benar-benar sadar
“Loe kenapa sih sampe
pingsat ditoilet?”
“Gue…..
Lauren tidak
melanjutkan kalimatnya,ia hanya memegang kepalanya yang rasanya masih oleng.
“Loe kenapa?” tanyaku
lagi
“Gue ketemu sama
Nenek tua yang dimimpi gue”
Aku tidak bisa
berkata apa-apa. Sumpah ini mengerikan.
“Loe pingsan
gara-gara kaget ketemu nenek tua itu?”
“Gue ketemu dia di
cermin toilet” suara Lauren memelan
Aku diam lagi,
kurasakan aku merinding, entah karena suhu AC diruangan itu benar-benar dingin
atau karena ini berbau mistis.
“Dia bilang ke
gue,gue bakalan melihat orang meninggal terus-terusan dan gue gak bisa hentiin
semua itu dan dia juga bilang tentang kecelakaan gue di Desa Citatah tapi gue
udah gak inget lagi”
Lauren langsung
memelukku, ku usap rambut halusnya. Ketakutan Lauren kini menjadi ketakutanku juga.
Setelah
kejadian di toilet itu, Lauren jadi pendiam, dia jarang kekampus. Jarang
mengabari aku. Setiap kutemui dia dirumahnya,
selalunya minta untuk tidak digangu, istirahat, lagi ingin sendiri. Kak Gilang
pun tidak mempan membujuknya. Aku jadi benar-benar khawatir. Aku tidak berani
menceritakan yang sesungguhnya kepada Kak Gilang. Biarlah Lauren sendiri yang
memberitahunya. Hampir seminggu Lauren tak masuk kampus. Selama itu pula ia
mengabaikanku. Aku tak bisa membuat dia berlama-lama dalam ketakutannya aku
harus menariknya keluar, aku harus mengembalikan keceriaannya. Aku memang tidak
bisa menghentikan mimpi yang selalu hadir setiap malam dalam tidurnya. Aku
tidak bisa ikut menolong orang yang akan meninggal itu. Aku hanya bisa
meringankan ketakutan Lauren bukan pada Nenek tua itu tapi pada dirinya.
Setelah kejadian Mang Asep, Lauren mengangap dirinya seperti Dukun, itu bukan
berkah untuknya, itu kutukan. Sepulang kampus, aku memutuskan menemui Lauren
dirumahnya.
Lauran
duduk diranjangnya, kakinya ditengkuk, lututnya menyentuh dagunya. Pandangan
sangat kosong, ia menatap keluar jendela kamarnya. Seminggu tak kulihat dia sudah
berubah jadi kurus , matanya berat aku tahu dia menahan kantuknya agar tak
tidur dan bermimpi lagi. Jelas kulihat kantung matanya menghitam.
‘Ren…..” aku tak
sanggup melanjutkan kalimatku. Air mataku sudah jatuh menetes dari sudut mataku.
Kupeluk Lauren dari belakang
“Loe jangan kayak
gini, gue gak tahan lihatnya”
Lauren masih diam, ia
juga ikut menangis ketika kupeluk. Dia membalikan badannya, sontak aku melepas
pelukannku.
“Pak Raffi meninggal
karena overdosis narkoba, Va”
Aku
menatap Lauren, aku akhirnya tahu mengapa Lauren begini selama seminggu. Ia
telah mengetahui penyebab kematian Pak Raffi tapi tidak bisa berbuat apa-apa
untuk mencegahnya bahkan untuk memberi tahuku pun ia tak bisa. Sehingga ia
menyalahkan dirinya sendiri.
“Ren, gue selalu ada
buat loe. Jangan loe pendam semuanya sendiri. Kita cari jalan keluarnya bareng”
Lauren memelukku
erat, kami menangis bersama. Luka Lauren adalah lukaku juga, sukanya adalah
sukaku juga.
Titititut…tanda chat
sedang masuk. Kubaca, rupanya itu dari grup chat whatsapp ‘Management 2016”.
Kubaca chat itu betapa terkejutnya aku saat kutahu bahwa isi chatnya adalah
kematian Pak Raffi, ia overdosis narkotika.
Aku
langsung menatap Lauren, Lauren tahu maksud tatapanku itu karena ia pun juga
sudah membaca chat itu digrup. Wajah Lauren kini biasa-biasa saja, aku yang
tidak biasa-biasa saja, wah gadis didepanku ini kini dapat melihat kematian.
To be continued........
Komentar
Posting Komentar