Mimpi :Misteri Mimpi Lauren (Part 2)

#fiksinely

Mang Asep

Aku ingat betul bagaimana sosok Mang Asep itu, sama ia juga kuanggap seperti Ayah, karena aku adalah anak yatim yang ditinggal Ayahku saat kelas 6 SD. Aku mengenal Mang Asep saat ia datang menjemput Lauren di Sekolah Waktu itu. Ia juga menjemput dan mengantarku pulang bersama Lauren. Orang pikir kami ini anaknya Mang Asep. Sebenarnya Mang Asep Duda gak punya anak, istrinya meninggal diusia pernikahan mereka yang masih 5 tahun. Istrinya sakit kanker hati. Waktu itu Mang Asep miskin tidak mampu membawa istrinya kerumah sakit untuk menyembuhkan penyakit istrinya. Sepeninggal istrinya, Mang Asep sangat frustasi dan merasa bersalah karena tidak mampu membawa istrinya berobat. Baginya kemiskinannya menjadi penyebab kematian sang istri. Mang Asep menjalani hidupnya tanpa semangat hidup, bahkan pernah ia berniat bunuh diri lantaran tidak sanggup lagi hidup dalam kemiskinan dan keterpurukannya. Untung saat itu ia diselamatkan oleh Ayah Lauren, Pak Wisnu. Diajaknya Mang Asep bekerja dirumah Lauren, waktu itu masih jadi tukang kebon, kemudian diajari cara menyetir mobil dan jadilah ia seorang supir pribadi keluarga Ayah Lauren.

Aku ingat betul waktu itu ada acara hari Ayah disekolah. Kami disuruh membawa Ayah masing-masing kesekolah untuk memperingati hari ayah. Karena saat itu Ayahku telah meninggal dunia, aku tidak membawa ayahku, ataupun orang lain untuk kujadikan ayah pura-pura di hari itu. Lauren juga tidak datang bersama ayahnya karena Ayahnya sedang keluar Kota waktu itu. Mang Asep pun berinisiatif menjadi Ayah pura-pura buat kami, Bu Narti, Wali kelas kami tidak keberatan sama sekali dia memaklumi kondisi kami masing-masing. Sejak saat itu aku sangat menyanyangi Mang Asep.

“Kalo nanti butuh Ayah lagi, panggil Mamang ajah yaa” kata Mang Asep dengan candanya saat mengantarku pulang

Setiap pulang sekolah Mang Asep selalu mengajakku dan Lauren ke penjual Es krim langganannya. Es roti namanya, roti dibelah kemudian dimasukkan es krim ada yang rasa Coklat, Strawberry, dan Kopi toppingnya susu dan seres. Aku dan Lauren sampai nambah lantaran enaknya Es Roti itu. tak jarang sampai Mang Asep selalu membersihkan seragam putih kami ketika susu coklat tumpah diseragam kami sambil berkata begini

“Neng baju seragam kok disusuin sih” sambil melap baju kami dengan sapu tangan lusuh andalannya

“Yee ini baju mau juga kali makan Es Roti, soalnya Es Rotinya enak sih” jawab Lauren kala itu menjilati Es Rotinya.

Mang Asep tidak hanya baik, dia juga orang yang dermawan. Kalau beli Es Roti selalu uangnya dilebihkan untuk Si Mas tukang es roti katanya itu uang buat nambahin beli payung barunya mas tukang Ss Roti itu.

“Kasiaan payungnya sudah pada sobek” kata  Mang Asep.  

Aku belajar sifat dermawan saat kecil itu dari Mang Asep. Mang Asep juga mengajarkan Lauren untuk menjadi dermawan, tidak pelit sama orang lain. Lauren waktu itu bisa dibilang tidak diajarin hal-hal semacam itu dari orang tuanya karena Ayahnya sibuk mengurus bisnis, Ibunya entah dimana keberadaannya setelah bercerai dengan Ayah Lauren. Bisa dibilang Mang Asep dan Mbok Sri lah orang tuanya ketika itu, mereka merawat Lauren kecil dan mengajarkannya sifat-sifat terpuji. Kalau lihat Lauren sekilas mirip Mang Asep mungkin karena Mang Asep yang mengasuhnya ya. Lauren jadi gadis pintar dan baik hati itu karena didikannya Mang Asep. Ayah Lauren sangat berterima kasih kepada Mang Asep, tanpa Mang Asep, Lauren mungkin akan tumbuh jadi gadis pemberontak. Maklum Ayah dan Ibu Lauren bercerai saat ia berusia 5 tahun. Lauren tidak pernah kekurangan kasih sayang, itulah sebabnya ia menjadi gadis yang penyayang. Waktu itu suatu ketika aku melihat Lauren di bully oleh teman-teman tetangga rumahnya karena Lauren tidak memiliki Ibu. Saat itu aku tertegun melihat Lauren membalas seperti ini “Ayahku Mang Asep, Ibuku Mang Asep, aku disayang Ayah,Mang Asep, Mbok Sri, dan Sahabatku Reva, kalian iri gak punya Mang Asep kan? Bilang sama Ibu kalian Mang Asep bakalan tinggal dirumahku selamanyaaaaa tidak akan jadi supir kalian” Diusianya yang masih belia tapi Lauren bisa berkata seperti itu, kata-katanya sangat menohok namun ada kebijaksanaan didalamnya, inikah bukti cinta Mang Asep kepada Lauren. Yang aku tahu dulu banyak sekali tetangga Lauren yang menginginkan Mang Asep jadi supir mereka, karena Mang Asep baik hati, tidak mempermasalahkan gaji walau gaji kecil.

Ku ceritan tentang Mang Asep kepada Ibuku, Ibu selalu tertawa dan bersyukur aku berteman denggan Lauren dan Mang Asep. Sampai-sampai Ibu pernah membuatkan bekal untuk Mang Asep dan Lauren makanan kesukaan Lauren dan Mang Asep cumi tumis dan cah kangkung. Aku bahka heran sampai sekarang kok Lauren dan Mang Asep sama-sama favorit sama cumi tumis dan cah kangkung.  Sudah seperti Ayah dan Anak saja.

Sampai kuliah pun Aku dan Lauren masih diantar jemput oleh Mang Asep. Padahal aku sudah punya mobil sendiri dan Lauren pun bisa menyetir juga. Mang Asep melarang Lauren menyetir sendiri takut ada apa-apa apalagi setelah kecelakaan, Mang Asep jadi super overprotective. Bahkan Lauren selau dibawakan bekal katanya makan jajan sembarangan bisa bikin ingatan Lauren tidak pulih. Masakan Mbok Sri bukan makanan semata tapi juga obat untuk Lauren agar ingatannya pulih. Saat mulai kuliah, aku meminta Mang Asep untuk tidak usah mengantarjemput aku lagi .Aku kasihan Mang Asep yang sudah semakin tua, nanti kecapean alasanku seperti itu ketika ditanyai Mang Asep kenapa tidak mau lagi diantar jemput. Waktu aku bilang seperti itu Mang Asep tampak sedih. Yahh maklumlah dari SD sampe sekarang diantar jemput tiba-tiba aku meminta untuk tidak mau lagi diantar jemput. Tapi bukan Mang Asep namanya bila tidak kocak.

“ Ya udah deh Mbak, Kalau Mbak Reva punya pacar bawa ke saya dulu, biar Ayah seleksi dulu” sambil menunjuk dirinya

Mendengar kata “Ayah” dari mulut Mang Asep hampir membuat air mataku berlinang. Meski kuanggap Ayah tapi kata-kata yang keluar dari mulut Mang Asep itu begitu menyentuh, sangat menyentuh, deep to the the heart banget

“ Sip Ayah” jawabku dengan tawa

Sudah tak adalagi Ayah Asep, sudah pergi. Tidak lagi yang akan mentraktir kami Es Roti, yang mengantar jemput, yang menemani kami ke mall memilih baju. Ooh berat tanpa Mang Asep. Ku sadari Lauren lebih berat menerima keaadaan ini. Mang Asep lebih dekat dengannya dibandingkan Ayahnya sendiri. Mang Asep bukan hanya sopir pribadi baginya melainkan, Ayah, guru, dan teman. Kenangan tentang Mang Asep Lauren simpan didalam sebuah lemari khusus yang ia namai “Kenangan Mang Asep tercinta”. Baju, Foto, benda kesayangan Mang Asep, Lauren simpan dalam lemari khusus itu, begitu pula dihatinya selalu tersimpan kenangan bersama Mang Asep.

Mimpi yang Sama

Wah gila loe, loe mau disemprot sama istrinya tuh orang” teriak Lauren menunjukku dengan tatapan marah tapi buatku itu lucu

“Weehh woles dong loe, gue itu cuma diajak makan siang sama Pak Raffi itupun Cuma bahas masalah penelitiannya” jawabku

“Gue tahu banget, tuh Pak Raffi naksir loe, dia itu udah dua kali nge Whatsapp gue minta nomor loe tapi gak gue kasih, gue bilang loe gak punya handphone, loe minjem HP gue buat gaya-gayaan didepan teman-teman”

“Wah gila lu Ren, gue minjem hp loe? hmmm,,,hahahah  loe irikan kan sama gue dinaksir sama dosen favoritnya cewek-cewek di fakultas ini, gue tahu loe ya yang suka sama Pak Raffi, loe mo pacarin dia supaya nilai loe A plus kan?”

Aku tahu Lauren akan langsung menimpukku dengan buku ditangannya karena candaan recehku itu, ku putuskan lari dan mengambil semua bukuku sebelum wajahku ditampok. Dan benar saja, dia mengejarku seperti mengejar maling. Begitulah kami seperti kucing dan tikus saling nonjok, pukul tapi itulah yang mempererat hubungan kami hingga sekarang. Kak Gilang bahkan iri dengan kedekatanku dengan Lauren yang sudah bisa dibilang “pacaran”. Lauren selalu mencium pipiku ketika gemas atau ketika sedang ingin menjahiliku. Biasanya kubalas dengan menggigit lengannya jika aku sedang asik membaca tiba-tiba ia sodorkan bibirnya yang penuh lipstick itu kepipiku. Tak jarang teman-teman sekelas memperhatikan kami sambil geleng-geleng kepala. Mungkin ada perasaan jijik saat melihat kami.

Sudah dua minggu Mang Asep meninggal, Lauren malah diantar jemput oleh Kak Gilang. Lauren tidak berani menyetir mengingat petuah Mang Asep. “Jangan nyetir Mbak, nanti ada apa-apa dijalan, Mbak kan orangnya gak hati-hati” pesan Mang Asep. Siang ini Lauren dijemput Kak Gilang menggunakan motor matic. Seperti biasa Lauren langsung mencariku dikelas, kukira dia akan menyodorkan bibirnya lagi dipipiku tapi kali ini dengan wajah seriusnya ditariknya kursi menghadapku.

“Va, gue habis mimpi itu lagi semalam”

“Mimpi yang mana?”aku sibuk mengunyah roti isi buatan Ibuku

“Mimpi ketemu nenek tua itu lagi, gue diberitahu bakalan ada lagi yang meninggal”

Langsung kutelan roti dalam mulutku, sisanya kusimpan diatas bukuku. Sejak terbuktinya mimpi Lauren, aku jadi serius jika ia bercerita tentang mimpi nenek tua itu lagi.

“Be…beneran loe? Sekarang yang meninggal siapa?”nada suaraku memelan takut teman-teman mendengar obrolan kami

Lauren diam sejenak, menatapku dalam

“Pak Raffi,Va”

Aku sontak kaget hingga kujatuhkan roti isi buatan ibu yang super lezat itu. Sekilas kulihat kelantai terbuang sayang namun cerita Lauren lebih penting dibandingkan roti isi itu.

“Loe gak sedang ngerjain gue kan Ren, gue tahu loe lagi bohongin gue karena masalah makan siang waktu itu kan sama Pak Raffi? Sumpah gue gak ada hubungan sama Pak Raffi”

“Gue serius,gue bahkan gak tidur habis mimpi semalem,gue takut banget”

“Trus, loe lihat sebab kematiaannya apa?”

Lauren menggeleng, seperti mimpi sebelumnya hanya sosok orang yang meninggal saja yang diketahui. Penyebab kematiannya tidak terlihat jelas. Penyebab kematiannya diketahui beberapa hari sebelum orang tersebut meninggal. Tangan Lauren gemetar, ada ketakutan diwajahnya. Kupegang tangan Lauren dan berusaha menenangkan pikirannya.

“Gue takut sama diri gue sendiri, gue gak mau mimpi itu datang ke gue”

“Tenang Ren, kita cari jalan keluarnya. Gimana kalau kita temuin Pak Raffi dulu?”

“Kalo kita nemuin Pak Raffi kita mo bilang apa hah? Bilang kalo gue bisa lihat di bakalan meninggal?”nada suara Lauren meninggi

Aku mengerti apa yang dihadapi Lauren saat ini. Orang-orang pastinya tidak akan percaya dengan ucapan Lauren. Pastinya mereka hanya menganggap itu omong kosong belaka bahkan mungkin ditertawai atau dianggap otak sudah gesrek akibat kecelakaan 2 tahun lalu.

“Trus, loe mo diam ajah gitu kayak gini?loe gak mau gitu hentiin semua ini?”

“Gue gak tahu harus ngapain Va, gue juga bingung,gue syok. Kenapa mimpi itu jelas banget?”

“Loe tenang kita cari info tentang Pak Raffi, entah dia sakit, entah dia punya musuh, ato apa kek”

Lauren hanya terdiam matanya menatap tembok, pikirannya buyar. Aku tahu Lauren masih syok dengan kejadian yang menimpa Mang Asep, juga mimpi yang diceritakan barusan. Aku menemui Pak Raffi dengan alasan menanyakan kelanjutan penelitiannya, kami cukup dekat sehingga aku tidak terlalu canggung jika menanyakan hal pribadi.

“Bapak pasti sibuk banget ngerjain penelitian, Apa Bapak tidak sakit ngurusun semuanya?”

“Gaklah Reva,lagian penelitian saya dibantu kamu jadi gak terlalu stress”

Pertanyaanku tidak menjurus ke permasalahan yang aku ingin tanyakan

“Pak, akhir-akhir ini Bapak terlihat kurang fit, memangnya Bapak sakit?

“Gak kok hanya keletihan biasa juga begini”

Aku kehabisan pertanyaan. Sebenarnya bisa saja aku bertanya lagi tapi takutnya tidak sopan dan terkesan sok akrab. Setelah membahas masalah penelitian Pak Raffi aku pun pamit dari ruangannya. Lauren berdiri didepanku tak kusadari ia membuntutiku ke ruangan Pak Raffi.

“Loe ngikutin gue ya?”

“Kampret suara loe nyaring banget loe mo bikin ribut diruang dosen?”

Lauren menutup mulutku dan menarik tanganku keluar.

“Udah kita ke Mall ajah,gue mo beli jam buat Kak Gilang”

Lauren tidak penasaran sama sekali dengan hasil pembicaraanku dengan Pak Raffi. Lauren tidak punya pilihan lain selain menghibur dirinya seperti ini. Bukan Reva namanya jika aku tidak mampu menangkap kegelisahan di wajah Lauren. Jujur aku juga takut bagaimana jika suatu saat nanti orang yang dia lihat dalam mimpinya yang akan meninggal itu adalah aku. Berat pastinya memberitahuku. Mungkin juga dia tidak akan memberitahuku.

Setelah makan siang di kantin kampus, Aku dan Lauran langsung berangkat menuju Mall Bandung Indah Plaza. Tak banyak hal yang kami diskusikan dalam mobil. Biasanya Lauren membahas Kak Gilang, kini ia diam sesekali menatap Handphonenya, mengecek social media miliknya dan membalas chat. Tentunya aku tak mau suasana terus menerus mencekam, Lauren itu kocak, that is not Lauren banget diam-diam seperti gadis polos tak berdosa.

“Eh loe mo diem-diem ajah nih, gue turunin loe dijalan nih”

“Yang lo turunin tuh harga sembako, bukan gue”

Akhirnya Lauren kembali ke mode berderingnya.

“Eh loe mo beliin jam tangan apa sih buat pacar loe itu?kan bisa beli online

“Mau gue beliin jam dinding tapi dipasangnya ditangan, biar dia gak suka telat”

“Emang Kak Gilang itu suka telat kekampus?”

“Bukan lagi telat, Va dia itu aneh tahu gak sih, kalo jemput aku on time, kalo masuk kuliah pas dosennnya udah keluar”

Aku tertawa kecil tak kupandangi wajah cemberutnya Lauren. Aku fokus melihat kedepan. Semenjak Mang Asep meninggal aku jadi super waspada jika mengantar Lauren karena bagiku menjaga keselamatan Lauren adalah pesan dari Mang Asep.

“Va, gue rasa Desa Citatah tempat kecelakaan gue waktu itu ada hubungannya deh sama mimpi gue”

“Maksud loe si Nenek tua itu?”

“Ia mungkin ajah kan? Nenek tua itu berasal dari Desa Citatah”

“Mungkin-mungkin ajah sih tapi kalo mungkin ia kenapa dia masuk ke mimpi loe?”

Lauren mengangkat bahunya. Entahlah itu benar atau tidak tapi mimpi Lauren selalu buatku merinding. Sampailah kami di Mall Bandung Indah Plaza. Lauren bisa saja membeli jam tangan mahal melalui olshop untuk Kak Gilang tapi  Kak Gilang bukan tipe orang yang mau diberi barang mewah dan mahal apalagi dari cewek. Kata Kak Gilang ke Lauren “aku tidak akan menolak pemberian kamu tapi aku menolak barang mahal dan mewah. Tubuhku hanya menerima barang yang dibeli dipasar dan masih menolerir barang yang dibeli dari Mall” sungguh Kak Gilang orang yang sangat low profile

Kami langsung melangkah ketoko jam tangan disebelah kanan pintu masuk. Kami fokus kejam tangan pria, Lauren menunjuk merek Daniel Wellington, jam tangan yang sedang in dikalangan milenial. Tanpa berpikir panjang Lauren langsung membelinya. Lauren punya selera fashion yang bagus. Siapa sangka gadis cantik,pintar,punya selera fashion yang bagus tapi memiliki otak gesrek. Yah itulah Lauren baru 2 tahun terakhir. Sebelum kecelakaan ia adalah Lauren yang sangat manis sifatnya seperti seorang Dewi tidak kocak seperti sekarang. Setelah asik berkeliling Mall mencuci mata, kami memutuskan untuk pulang.

“Gue mo ke toilet dulu,keknya gue pengen pub deh”

Gadis ini memang gila, ngomong hal kotor didepan umum. Kalau orang dengar apalagi cowok-cowok langsung ilfeel deh,image feminim,kalem dari wajahnya itu akan jatuh.

Hampir 20 menit kutunggu Lauren, ia tak muncul juga

“Jangan-jangan dia beneren pub lagi,terus pubnya keras” pikirku

Akhirnya ku samperi Lauren di toilet.

“Ren, Ren”

Kulihat Lauren telah tidak sadarkan diri. Ku goyangkan wajahnya,memanggil-manggil namanya

“Lauren.Ren”

Aku meminta tolong seorang pria untuk menggendong Lauren dan membawanya ke ruang staff Mall, kugosokkan minyak kayu putih dihidungnya. Lauren menggerakkan matanya tanda sudah mulai sadar.

“Ren,Ren ini gue Reva”

“Ia gue tahu, setan juga tahu kali Va”

Candanya kambuh berarti Lauren telah benar-benar sadar

“Loe kenapa sih sampe pingsat ditoilet?”

“Gue…..

Lauren tidak melanjutkan kalimatnya,ia hanya memegang kepalanya yang rasanya masih oleng.

“Loe kenapa?” tanyaku lagi

“Gue ketemu sama Nenek tua yang dimimpi gue”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sumpah ini mengerikan.

“Loe pingsan gara-gara kaget ketemu nenek tua itu?”

“Gue ketemu dia di cermin toilet” suara Lauren memelan

Aku diam lagi, kurasakan aku merinding, entah karena suhu AC diruangan itu benar-benar dingin atau karena ini berbau mistis.

“Dia bilang ke gue,gue bakalan melihat orang meninggal terus-terusan dan gue gak bisa hentiin semua itu dan dia juga bilang tentang kecelakaan gue di Desa Citatah tapi gue udah gak inget lagi”

Lauren langsung memelukku, ku usap rambut halusnya. Ketakutan Lauren kini menjadi ketakutanku juga.

Setelah kejadian di toilet itu, Lauren jadi pendiam, dia jarang kekampus. Jarang mengabari aku.  Setiap kutemui dia dirumahnya, selalunya minta untuk tidak digangu, istirahat, lagi ingin sendiri. Kak Gilang pun tidak mempan membujuknya. Aku jadi benar-benar khawatir. Aku tidak berani menceritakan yang sesungguhnya kepada Kak Gilang. Biarlah Lauren sendiri yang memberitahunya. Hampir seminggu Lauren tak masuk kampus. Selama itu pula ia mengabaikanku. Aku tak bisa membuat dia berlama-lama dalam ketakutannya aku harus menariknya keluar, aku harus mengembalikan keceriaannya. Aku memang tidak bisa menghentikan mimpi yang selalu hadir setiap malam dalam tidurnya. Aku tidak bisa ikut menolong orang yang akan meninggal itu. Aku hanya bisa meringankan ketakutan Lauren bukan pada Nenek tua itu tapi pada dirinya. Setelah kejadian Mang Asep, Lauren mengangap dirinya seperti Dukun, itu bukan berkah untuknya, itu kutukan. Sepulang kampus, aku memutuskan menemui Lauren dirumahnya.  

Lauran duduk diranjangnya, kakinya ditengkuk, lututnya menyentuh dagunya. Pandangan sangat kosong, ia menatap keluar jendela kamarnya. Seminggu tak kulihat dia sudah berubah jadi kurus , matanya berat aku tahu dia menahan kantuknya agar tak tidur dan bermimpi lagi. Jelas kulihat kantung matanya menghitam.

‘Ren…..” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Air mataku sudah jatuh menetes dari sudut mataku. Kupeluk Lauren dari belakang

“Loe jangan kayak gini, gue gak tahan lihatnya”

Lauren masih diam, ia juga ikut menangis ketika kupeluk. Dia membalikan badannya, sontak aku melepas pelukannku.

“Pak Raffi meninggal karena overdosis narkoba, Va”

Aku menatap Lauren, aku akhirnya tahu mengapa Lauren begini selama seminggu. Ia telah mengetahui penyebab kematian Pak Raffi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya bahkan untuk memberi tahuku pun ia tak bisa. Sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri.

“Ren, gue selalu ada buat loe. Jangan loe pendam semuanya sendiri. Kita cari jalan keluarnya bareng”

Lauren memelukku erat, kami menangis bersama. Luka Lauren adalah lukaku juga, sukanya adalah sukaku juga.

Titititut…tanda chat sedang masuk. Kubaca, rupanya itu dari grup chat whatsapp ‘Management 2016”. Kubaca chat itu betapa terkejutnya aku saat kutahu bahwa isi chatnya adalah kematian Pak Raffi, ia overdosis narkotika.

Aku langsung menatap Lauren, Lauren tahu maksud tatapanku itu karena ia pun juga sudah membaca chat itu digrup. Wajah Lauren kini biasa-biasa saja, aku yang tidak biasa-biasa saja, wah gadis didepanku ini kini dapat melihat  kematian.

                                                                                                                   To be continued........


Komentar