#fiksinely
Pikiranku terbang kemana-mana,menebak-nebak semua jawaban
atas pertanyaan yang aku buat sendiri. Kenapa Lauren tiba-tiba ingin bertemu?
Kenapa ada kata “serius” diakhir ucapannya? Mungkin kah ada korban lain lagi
yang dilihatnya? Mungkinkah ingatannya sudah benar-benar pulih? 3 bulan
terakhir kepalanya berusaha memanggil potongan-potongan ingatannya yang hilang
2 Tahun yang lalu. Aaakhh….aku semakin pusing membuat pertanyaan dengan jawaban
yang kuterka-terka dengan kata mungkin.
Mimpi
Nenek Tua
Lauren
tidak biasanya seserius ini, aku tahu dia adalah gadis yang penuh canda dan
humoris. Walaupun ada hal serius yang ingin dia ceritakan kepadaku dia selalu
membumbuinya dengan canda konyolnya. Seperti kemarin saat ia hendak
memberitahuku kalau kak Gilang nembak dia. Dia bilang seperti ini
“ kalau gue pacaran sama anak pecinta lingkungan, otak gue
bisa jadi bersih gak ya”.
“Emangnya ada gitu yang mau sama si otak kotor kayak loe?”
tanyaku bercanda.
“Kak Gilang kemarin nembak gue, gue terima ajah langsung
tanpa eng ing eng”.
Namun tadi siang tidak ada canda konyol seperti itu dalam
pembicaraannya. Hanya wajah serius dan tidak bergairah yang kudapat. Ini bukan
Lauren banget sejak ku kenal Lauren yang baru 2 tahun lalu. Dua tahun lalu, Lauren konyol,lucu, dan kocak
lahir. Aku tak tahu apakah itu efek kecelakaan yang ia dapat saat mendaki
tebing curam 2 tahun lalu itu. Aku justru senang dengan itu bukan karena Lauren
kehilangan ingatannya tapi karena dia menjadi orang lebih ceria dibandingkan
sebelum kecelakaan. Aku pun ikut terlular kocak olehnya. Tak jarang aku sering
menangis bila didekatnya,bukan karena menangis sedih melainkan menangis karena
tertawa terpingkal-pingkal. Desa Citatah yang kami kunjungi untuk ekspedisi
alam 2 tahun lalu membawa kisah mistis tersendiri untuk Lauren. Tidak hanya
ingatannya yang diambil tetapi memberikan bayangan-bayangan hitam untuk Lauren.
Pasca kecelakan itu,lauren sering didatangi sosok nenek tua yang memberitahukan
orang disekitar Lauren akan meninggal. Aku menjadi orang pertama yang ia
ceritakan mengenai sosok nenek tua yang muncul dalam mimpinya itu. Awalnya aku
tidak menganggap itu serius.
“aakhhh itu hanya mimpi Ren, itu gak bakalan terjadi”
“ Tapi Va, dimimpi gue si nenek tua itu nunjukin orang yang
bakalan meninggal itu Mang Asep”
Aku adalah menganggap diriku sebagai sahabat yang baik, aku
tidak menertawakan cerita sahabatku itu. Aku justru memintanya untuk
menyelidiki bersama. Aku tahu ini gila, tapi kucoba menenangkan Lauren dengan
cara ini agar ia percaya bahwa itu cuma mimpi tak ada pesan apa-apa didalamnya.
Dua minggu setelah dirawat dirumah sakit, Lauren diperbolehkan pulang, namun harus
sering chek up untuk mengembalikan ingatannya yang hilang pasca kecelakaan.
Sesampainya dirumah, Aku dan Lauren menanyai Mang Asep.
“Mang Asep, lagi sakit ya?” tanya Lauren mulai
menginterogasi
“Gak mbak. Orang Mang Asep sehat-sehat ajah”
Lauren terdiam sebentar kemudian menanyai lagi Mang Asep
dengan tatapan Ingin tahu, ada rasa peduli dalam tatapannya itu.
“Mang kalau sakit jangan disembunyikan dong Mang, Lauren
udah mengangap Mang Asep seperti Ayah Lauren
sendiri. Kalau Mamang sakit, kita kerumah sakit yaa sekarang”
“Sumpah Mbak, Mang tidak bohong, Mang Asep sehat-sehat ajah”
Aku ikut menanyai Mang Asep, aku rasa Lauren kecewa dengan
jawaban Mang Asep walaupun sebenarnya memang Mang Asep baik-baik saja, tidak
sakit.
“Mang, tidak cek kedokter gitu baru-baru ini? mungkin dokter
bilang ada penyakit yang gak bisa disembuhkan”
Mang Asep tetap menjawab ia baik-baik saja bahkan ada terselip
tawa di bibirnya. Tawa itu jelas memberi jawaban yang sebenarnya kepada Lauren
kalau Mang Asep tidak sakit. Wajah Lauren seketika berubah ceria melihat tawa
Mang Asep. Melihat Lauren tertawa, aku harap pikirannya saat ini yang sudah
tenang dan tidak mengkhawatirkan mimpi itu lagi.
Lauren lagi-lagi didatangi
mimpi yang sama setiap malam. Tentunya dengan pesan yang sama kalau Mang Asep akan
meninggal. Lauren menceritakan ketakutaanya itu padaku. Aku berusaha
menenangkan Lauren. Aku mengeluarkan semua kata-kata bijakku yang kudapat dari
postingan instagram dan dari cerita orang-orang. Sejak aku memberikan kata-kata
bijakku itu, Lauren berubah menjadi sosok yang humoris, aku tidak tahu pasti
kapan tepatnya perubahan itu mencul pada dirinya. Tapi hingga sekarang aku berfikir bahwa kata-kata
bijakkulah yang membuat dia jadi humoris dan kocak seperti sekarang.
Mimpi
itu Kebukti
Genap seminggu Lauren
dan Kak Gilang berpacaran. Betulah kata orang-orang jika sahabatmu telah
mencintai lawan jenisnya kamu pun akan diabaikan. Aku betul-betul diabaikan
oleh si gadis kocak itu. Biasanya setibanya dikampus, Lauren langsung menelpon
atau menemuiku dikelas, sekarang justru yang ditelponnya duluan adalah
kekasihnya, Kak Gilang anak pecinta lingkungan, senior 2 tahun diatas kami. Aku
telah melihat wajah kak Gilang itu,wajahnya terawat tentu menunjukan bahwa ia
pembersih. Kulitnya sawo matang. Tak ada jerawat bertengger diwajahnya. Hanya
komedo kecil yang tak kasat mata. Tentu itu sangat manusiawi mengingat dia
bukan dewa atau pun malaikat. Dia tinggi, mungkin sekitar 170an cm yah lumayan
tinggilah untuk kategori orang Indonesia. Rambutnya lumayan gondrong, gak sampe
sebahu tapi bisalah buat dikucir. Rambutnya selalu ia biarkan tergerai dengan
belah tengahnya yang bikin cewek-cewek menoleh sekilas. Poni kecil berombaknya
kadang bergeser kesebelah kanan atau kiri membuatnya sering mengatur posisi
poninya. Bisa kubilang Kak Gilang itu tipe ideal cewek-cewek banget. Tidak
hanya enak dipandang mata, kepribadiaannya juga bagus. Ramah, mudah bergaul,
baik, dan sedikit humoris cocoklah jika bersanding dengan Lauren meski kutahu
Lauren kocaknya kebangetan lebih mengarah ke hal buruk.
Kadang aku cemburu melihat Kak
Gilang bersama Lauren terus-terusan. Cemburu bukan karena aku menyukai Kak
Gilang tapi karena aku diabaikan oleh sahabatku, Lauren. Pertemuan kami jadi
tidak intens. Setiap harinya palingan hanya dikelas saja kami bertemu itupun ketika
kuliah. Setelah kuliah, dia pergi menemui kekasih hatinya itu. Aku mengerti
hubungan mereka masih panas-panasnya, jadi ingin bertemu terus serasa berpisah
semenit itu rasanya seperti berpuasa sebulan.
Aku pun mencari kesibukan sendiri jika Lauren pergi menemui Kak Gilang.
Pagi ini kuliah ku hanya 1 itupun Pak Burhan, dosen Management tidak masuk.
Kuputuskan untuk keperpustakaan untuk membaca beberapa buku sembari mencari
beberapa referensi untuk tugas kelompokku. Sesampainya di Perpustakaan, ku cari
handphoneku tapi tak kudapati handphoneku disaku celana dan ditasku. Baru kuasadari
bahwa Handphoneku tertinggal didalam mobil. Ku berlari kecil menuju parkiran
mencari Honda jazz miliku. Kulihat Mang Asep berdiri disamping mobil, kutahu
itu mobil Lauren. Mang Asep pasti datang
menjemput Lauren.
“Mang Asep, mau jemput Lauren ya? tunggu ya aku telponin Si
Lauren. Biasa dia mang udah punya pacar baru jadi aku ditinggalin” kataku
sambil tertawa kecil sambil membuka pintu mobilku
“Ia Mbak, Mang mau beli minuman dulu diwarung, haus pisan eui”
Tak kuperhatikan Mang Asep yang berlalu begitu saja, aku
sibuk mengambil Handphoneku di kursi mobil, lalu mencari kontak Lauren dan
menelponnya. Bunyi tuuut….tuuuttt…tuuut…. Lauren belum juga mengangkat
telponku.
“Astagfirullah….”
“Ada yang kecelakaan,…eh tolongin eh tolongin”
Kubalikkan badanku mengikuti suara orang-orang panik sambil
berlarian. Kulihat orang telah berkerumun ditengah dijalan. Suara-suara
menjerit, teriak makin jelas kudengar. Mahasiswa-mahasiswa kampus yang tadinya
ramai diparkiran kini berlarian keluar menuju jalan raya. Handponeku masih
kutempelkan ditelingaku, sambil berjalan menuju kerumunan ku pencet kembali
nomor Lauren yang tidak diangkatnya.
“Itu kenapa ya? Kok pada berkerumun sih” tanyaku penasaran
kepada seorang mahasiswi didepanku
“Ada orang kecelakaan. Bapak-bapak” jawabnya
Dihanphone terdengar suara Lauren
“Halo, ia Reva sayangku, kenapa mmm? Lauren menjawab dengan
gelagat manjahnya
Aku belum menjawab pertanyaan Reva. Aku berusaha menerobos melihat
korban kecelakaan itu. Betapa terkejutnya aku melihat korban kecelakaan itu,
darahnya membasahi badan jalan. Wajahnya dipenuhi darah yang terus mengalir
dari jidatnya. Kakiku lemas tak kuat menahan tubuhku,aku terduduk disamping
korban kecelakaan tersebut hingga handphoneku pun ikut terjatuh. Air mataku
seketika berucuran, kututup mulutku berusaha menahan keluar suara tangisku tapi
tetap tak mampu ku tahan.
“Maaaanggg Asep, mang..mang…” kugoyang-goyangkan badan
seseorang yang ku kenal itu. Ia, dia adalah Mang Asep, orang yang barusan aku
ajak bicara di parkiran. Aku berteriak meminta tolong kepada orang-orang yang
mengelilingiku untuk menelpon ambulance. Tangisku makin pecah saatku cek napas
dihidungnya,aku tak merasakan hembusan udara keluar dari hidungnya.
“Halo…halo Reva, Reva, loe masih disitukan”
Suara Lauren dibalik handphone mendiamkan ku sesaat, kuraih
handphone yang sempat terjatuh dari tangan ku tadi. Air mataku tak berhenti
berliang.
“Ren, Mang Asep kecelakaan, lo cepatan ke jalan depan parkiran”
Tak kudengar lagi suara Lauren dibalik telpon, yang kudengar
hanya langkah kaki. Lauren datang tepat ketika petugas ambulance mengangkat
tubuh Mang Asep kedalam mobil berwana putih itu. Lauren berteriak
histeris,mengoyang-goyangkan tubuh Mang Asep. Tangan Lauren dipenuhi
darah,tangan yang berlumuran darah itu ia lapkan air matanya. Hingga darah
itupun ikut menempel dipipinya. Aku dan Lauren naik mengikuti mobil ambulance.
Sepanjang perjalanan kami menangis. Petugas ambulance yang mengetahui kondisi
Mang Asep langsung memberitahu Lauren bahwa Mang Asep telah meninggal. Lauren
menangis sejadi-jadinya. Dipegangnya tanggan keriput Mang Asep itu. Aku tahu
alasan Lauren menangis seperti itu, aku tahu kenapa Lauren menangisi jenazah Mang
Asep seperti menangisi orang terkasih meninggal dunia mungkin orang berpikir
Mang Asep cuma seorang supir. Tidak Mang Asep adalah seperti keluarga bagi Lauren, seperti paman bahkan
Ayah baginya. Ayah Lauren adalah orang yang sibuk. Sering keluar negeri untuk
mengerjakan bisnisnya. Mang Asep adalah sopir
Ayahnya yang selalu menemani dan menjemut Lauren semasa kecil dulu.
Karena merasa sudah sangat sayang dengan Mang Asep, Lauren meminta Mang Asep
menjadi sopir pribadinya. Hingga sekarang pun Mang Asep selalu mengantar jemput,
membawakan bekal, dan menemani Lauren kemanapun ia pergi.
Sesampainya dirumah sakit, Lauren masih terus memegang
tangan Mang Asep. Bajunya penuh darah seakan-akan ia juga ikut menjadi korban
kecelakaan. Jenazah Mang Asep dibersihkan, kami diminta untuk menunggu di ruang
tunggu. Setelah di bersihkan dan dijahit semua lukanya barulah boleh dilihat
dan dibawa pulang. Lauren memelukku erat, sangat erat hingga bisa ku rasakan
air matanya tumpah di bajuku namun kubiarkan air matanya tumpa. Ku tepuk
punggungnya, kucoba menenangkan dengan kata-kata bijakku.
“Ren, ini semua sudah kuasa Allah, kitapun gitu bakalan
meninggal. Loe jangan nangis lagi dong nanti Mang Asep gak tenang. Kita
ikhlasin yaa, Ren”
Tak kusangka air mataku yang sedari tadi mulai mengering kini
basah lagi, kuseka air mataku namun tetap jatuh menetes. Isak tangis Lauren
mulai mereda, kini hanya napasnya yang tidak karuan ditelingaku. Kurasa dia
mulai mengatur napasnya dan dilepaskan pelukanku.
“Va, gue rasa mimpi yang gue bilang waktu itu benar deh”
katanya dengan suara parau
Aku tak merespon tapi mataku lekat menatap Lauren serius.
Kali ini aku tidak lagi memberikan kata-kata bijakku seperti Mario Teguh. Aku
memegangi kepalaku menaikan poniku keatas. Sungguh aku pun bingung harus
percaya atau tidak tapi semua yang dikatakan Lauren tentang mimpinya itu
benar-benar terjadi. Dalam mimpinya yang terakhir Lauren diberitahu bahwa Mang
Asep akan meninggal dalam kecelakaan tertabrak truk. Dan itu benar-benar
terjadi. Mengingat kembali mimpi Lauren membuatku merinding, kugosok bulu
kudukku dan memperbaiki posisi dudukku.
“Ren, mungkin gak sih loe sekarang itu jadi dukun” candaku
dalam keheningan koridor rumah sakit.
“Loe masih sempat bercanda disaat serius kayak begini? Lauren
memukul bahuku dengan tangannya
“Gue takut banget, Va. Gimana kalau mimpi gue bakalan
berlanjut?” lanjutnya
“Maksud loe?”
“Gimana kalau Nenek tua itu hadir lagi di mimpi gue, terus
kasi tahu ada orang lain yang bakalan meninggal lagi”
Untuk pertama kalinya aku takut dengan Lauren. Aku takut
Lauren bisa melihat orang yang akan meninggal. Sungguh tidak bisa kuterima
dengan nalar bagaimanapun aku berpikir.
Jenazah Mang Asep di bawah
kerumah Lauren. Lauren sudah tidak lagi menangis tapi matanya super bengkak
hingga sesekali menutupi wajanya dengan kerudung. Mang Asep tidak punya
keluarga di Bandung. Keluarganya semua merantau jadi TKI di luar negeri. Hanya
Mbok Sri satu-satunya sepupunya. Mbok Sri tinggal di rumah Lauren jadi ART.
Tangis Mbok Sri seketika pecah melihat jenazah Mang Asep diturunkan dari
ambulance. Lauren langsung memeluk Mbok Sri yang terjatuh dilantai. Lauren ikut
menangis kali ini ia tidak berterik histeris lagi seperti saat pertama kali
melihat jenazah Mang Asep.
Sekitar pukul 14.15 jenazah Mang Asep dikebumikan. Langit
yang cerah berubah mendung seakan ikut berduka atas kepergian Mang Asep.
Tentulah alam ikut bersedih, sosoknya yang dermawan,murah senyum,dan humoris
akan selalu dikenang pastinya.
Para pelayat satu
persatu bubar. Yang tersisa hanya aku, Lauren,Mbok Sri, Kak Gilang kekasih
Lauren, dan Ayah Lauren. Ayah Lauren yang sedang berada di daerah Sulawesi saat
itu, langsung cepat-cepat ke Bandung mendengar kabar meninggalnya Mang Asep.
Aku tak pernah melihat Ayah Lauren menangis, saat itulah pertama kalinya diatas
pusara Mang Asep. Sungguh Mang Asep orang yang sangat baik, dicintai banyak
orang. Aku dan Lauren membopong tubuh Mbok Sri dan membawanya pergi. Kulihat
Mbok Sri sebentar lagi runtuh, tenaganya terkuras habis karena menangis. Ayah
Lauren dan Kak Gilang juga ikut beranjak bersama kami. Tak ada suara, hanya
raut kesedihan diwajah kami bahkan aku melihat kekasih Lauren, Kak Gilang
menyeka air matanya. Aku tahu Kak Gilang
juga ikut sedih karena meskipun baru kenal dengan Mang Asep, Kak Gilang sudah
akrab karena sering mengobrol sama Mang Asep. Pernah Lauren cerita waktu
pertama kali mereka akan nge date disalah
satu Resturant di Bandung, Kak Gilang menjemput Lauren kerumahnya dan yang
membukakan pintu adalah Mang Asep. Mang Asep saat itu mengerjai Kak Gilang
habis-habisan. Kak Gilang dibuat takut karena Mang Asep mengaku sebagai Ayahnya
Lauren. Ditanyainya segala hal mulai
dari pekerjaan, hobi,kuliah,kegiatan kampus,sampe keseriusan Kak Gilang
memacari Lauren apakah akan dibawa ke jenjang pernikahan atau tidak. Wajah Kak
Gilang makin pucat saat ditantang bermain catur dengan Mang Asep. Mang Asep itu
jagonya catur, gak bakalan menang kalau lawan dia. Kalau menang boleh mengajak
Lauren keluar tetapi jika kalah Kak Gilang harus segera angkat kaki dari rumah Lauren.
Mang Asep itu pandai menilai orang, jadi dibiarkannya Kak Gilang mengajak
kencan Lauren waktu itu. Kutanya Lauren apakah benar Mang Asep dikalahkan oleh
Kak Gilang. Lauren menjawab “Mang Asep
pura-pura kalah, karena ia tahu Kak Gilang itu orangnya tulus”
Komentar
Posting Komentar