dia bertelanjang kaki
menyusuri tiap lorong sempit
jalanan adalah rumahnya
langit biru atapnya
di tengah riuh klakson bersahut-sahutan dia sendirian
menatap gedung-gedung menjulang tinggi
langkahnya terhenti tiap kali bertemu bak sampah
diacak-acaknya sampah bau itu
tak peduli lalat maupun cacing
tangannya mengais sisa-sisa makanan
memasukkannya ke dalam mulut dengan nikmat
tak heran jika Escherichia coli berubah jahat
ususnya dan sampah sudah seperti teman dekat
hingga sering perutnya melilit teriak sakit
bagi sebagian orang dunia ini begitu jahat
menghukum mereka dengan melarat
setiap hari menjerit
keras dunia memaksa harus kuat
tak kuat maka lebih baik memilih wafat

Komentar
Posting Komentar