#fiksinely
Lauren Berubah
Ingatan Lauren telah pulih. Dia juga
sudah tidak lagi bermimpi didatangi oleh nenek tua yang memberi tahu akan ada
orang meninggal disekelilingnya. Lauren juga sudah jarang menemuiku. Dia sibuk
dengan kuliahnya, organisasi dan kekasihnya, Kak Gilang. Jika dulu setibanya di
Kampus dia selalu menemuiku lebih dulu, sekarang ia sibuk ke perpustakaan
mengerjakan tugas. Pertemuan kami sudah tidak seintens dulu lagi. Kami tidak
lagi nongkrong di Cafe favorite kami setelah kuliah. Lauren jarang mengangkat
telponku. Jika aku ingin kerumahnya ia selalu beralasan sedang tidak ada
dirumah. Aku merasa Lauren sudah seperti orang lain, dia sudah berubah. Kami
sama-sama kuliah dijurusan yang sama, dikelas yang sama tapi Lauren seakan-akan
sudah sibuk sendiri. Jika ada tugas berkelompok, Lauren menolak berkelompok denganku
padahal dulu jika kami tidak sekelompok dia yang mati-matian meminta dosen
untuk menyatukan kami supaya bisa satu kelompok atau meminta dan membujuk teman
kami untuk pindah kelompok agar aku bisa masuk dalam kelompoknya. Perubahan ini
aku rasakan 3 bulan yang lalu. Awalnya aku merasa biasa saja karena aku
memaklumi Lauren sangat aktif di organisasi kampus dan juga sibuk mengerjakan
tugas kuliah tapi semakin kesini aku berpikir bahwa Lauren membenciku. Dia
jarang menyapaku dikampus, jarang senyum, bicaranya sudah sedikit jutek, dan
selalu mencari alasan jika mengajaknya bertemu atau sekedar nongkrong. Lauren
berubah. Sebegitu mudahnya hati Lauren berubah padahal kami bersahabat sejak
kecil. Dia menganganggapku saudara begitupun aku. Lauren berubah, duniaku pun
ikut berubah. Kemana-mana aku selalu bersama Lauren tapi kini aku sendirian
seperti anak ayam kehilangan induknya. Jika Lauren membenciku aku harus tahu
kenapa dia membenci, alasanya apa dan aku ingin kami bisa seperti dulu lagi.
Aku terus mencari kesalahanku dimana. Tapi tak kudapatkan.
Ku
telpon Lauren. Aku harus memastikan sesuatu. Ketekan kontak “sayangku” dan
bunyi tit…tit…tit… terdengar. Ku namai kontak Lauren dengan “Sayangku” karena
awalnya dia yang ingin agar kami mejadi sahabat yang romantis. Saat itu Lauren
belum berpacaran dengan Kak Gilang. Dia ingin sekali memiliki pacar. Lauren
bukan gadis yang tidak laku atau tidak disukai oleh para pria. Justru Lauren
bisa dibilang primadonya jurusan kami. Dia hanya menjadi gadis yang pemilih
jika soal hubungan asmara. Banyak pria ditolaknya namun semua tidak sesuai
kriterianya. Harta,kekayaan adalah nomor sekian untuk Lauren, yang utama adalah
karakter si pria itu. Lauren memintaku menyimpan kontaknya dengan nama
“sayangku” katanya biar dia dikira punya pacar supaya cowok-cowok yang PDKT
sama dia langsung menyingkir. Hingga sekarang aku tak mengganti nama kontaknya
meskipun dia sudah memiliki kekasih.
Lauren
mengangkat telponnya. Suaranya masih sama tetap datar tidak ada kata sayangku
diawal kalimatnya. Akhir-akhir ini aku kangen mengatakan kata sayangku diawal
pembicaraanya. Aku kangen keusilan Lauren yang selalu menciumi pipiku saat baru
tiba di Kampus.
“Halo, Ren loe
dimana?”
“Gue di perpus.
Kenapa? Jawab Lauren singkat
“Gue mo ngomong ama
loe, serius”
“Gue lagi sibuk nanti
gue telpon ya” tutup Lauren
Lagi-lagi
Lauren menghindariku. Sepertinya benar dugaanku Lauren sedang marah padaku.
Tapi tentang apa? Masalahnya apa? Kuhubungi Lauren lagi untuk bicara empat mata dengannya.
Membicarakan kerenggangan hubungan kami yang tidak seharmonis dulu. Lauren
tetap menghindariku dengan berbagai alasan kesibukannya.
Dua
minggu setelah kuhubungi Lauren, aku belum juga mendapatkan telpon darinya. Aku
tidak bisa didiamkan seperti ini. Jika Lauren membenciku, masalahnya apa?
Salahku apa? Aku jadi kacau balau tanpa Lauren. Hari ini aku di Kampus
uring-uringan, aku tidak fokus memperhatikan penjelasan dosen. Kuliahku
berakhir pukul 10 pagi. Kulangkahkan kaki menuju parkiran, biasanya jika
kuliahku cepat selesai aku langsung pergi menemui Lauren tapi kini aku hanya
bisa melamunkan kenangan itu. Sesosok suara yang tidak asing membuyarkan
lamunanku. Suara itu suara Lauren. Langsung ku balikan suaraku menuju sumber
suara
“Va, gue mo ngomong
sama loe”
“Ya ngomong ajah, gue
juga mo ngomongin masalah hubungan kit…..”
Bicaraku tiba-tiba
terhenti, Lauren memotong pembicaraanku.
“Kita ngomong dirumah
gue ajah ya, loe ke rumah gue entar sore ya, ini serius”
“Oke” jawabku singkat
Lauren langsung pergi berlalu tanpa pamit kepadaku. Aku heran kenapa Lauren bersikap dingin begitu padaku. Dia juga memotong pembicaraanku. Pikiranku terbang kemana-mana,menebak-nebak semua jawaban atas pertanyaan yang aku buat sendiri. Kenapa Lauren tiba-tiba ingin bertemu? Kenapa ada kata “serius” diakhir ucapannya? Mungkin kah ada korban lain lagi yang dilihatnya? Mungkinkah ingatannya sudah benar-benar pulih? 3 bulan terakhir kepalanya berusaha memanggil potongan-potongan ingatannya yang hilang 2 Tahun yang lalu. Aaakhh….aku semakin pusing membuat pertanyaan dengan jawaban yang kuterka-terka dengan kata mungkin.
Yang Sebenarnya Terjadi
Sore ini aku datang kerumah Lauren
sesuai permintaannya tadi pagi. Ada rasa deg degan di dadaku. Sepanjang hari
ini aku berpikir tak henti hentinya. Akankah Lauren membenciku? Aku takut dia
tahu bahwa aku diam-diam menyukai Kak Gilang. Aku sadar aku sudah lancang.
Sungguh aku menyesal pernah menyatakan perasaanku kepada Kak Gilang waktu itu.
Aku tidak berniat merebut Kak Gilang dari Lauren aku hanya terbawa suasana saat
itu Kak Gilang benar-benar menunjukkan sisi hangatnya. Aku merasa nyaman dan
tiba-tiba bilang suka padanya.
Mobilku telah parkir
dihalaman rumah Lauren. Ku ketuk pintu rumah Lauren tak ada yang membukakan.
Mungkin Mbok Sri tak ada dirumah. Kuketuk untuk ketiga kalinya dan suara
terdengar dari dari dalam
“Ia tunggu”kata
Lauren membukakan pintu
Saat
Lauren membuka pintu tak ada sedikitpun rasa bahagia menyambutku diwajahnya.
Aku semakin yakin dia marah padaku. Lauren mempersilahkanku duduk. Sungguh
suasana yang sangat kikuk aku seperti bertemu dengan calon ibu mertuaku untuk
pertama kalinya. Ini adalah suasana kikuk pertama kali dalam hidupku saat
bersama Lauren. Persahabatan kami terlalu indah sampai-sampai kami tidak pernah
merasa kikuk dan canggung satu sama lain. Tapi, hari ini aku benar canggung.
“Loe mo minum apa?
kata Lauren membuka suara
“terserah loe ajah”
Tidak biasanya
kubilang seperti itu, jika Lauren menanyakan mau minum apa biasanya kubilang Es
Krim, jus mangga atau thai tea buatan Lauren. Tapi, saat ini aku sedang dalam
suasana yang tidak bisa untuk minta pa yang kumau walau sebenarnya aku sedang
ingin minum thai tea buatan Lauren sih. Lauren datang dengan dua gelas jus
strawberry ditangannya.
“Minum, Va! Pinta
Lauren
Langsung kuminum jus
strawberry buatan Lauren. Aku memang haus sedari tadi tenggorokanku kering
“mau ngomong apa Ren”
kataku membuka percakapan sambil melap bibirku yang terkena busa jus strawberry
“Gue benci sama loe”
“Maksud loe apa Ren?
“Loe udah nikam gue
dari belakang, loe sukakan sama Kak Gilang? Kak Gilang sama Mbok Sri udah
cerita semuanya kegue”
Aku tidak mengerti
apa yang dikatakan Lauren. Aku suka sama Kak Gilang? Tidak mungkin. Kapan aku
mengatakan hal itu.
“Gue gak pernah
nembak Kak Gilang. Gue hak ngerti loe ngomong apa? Kenapa bisa Mbok Sri dan Kak
Gilang bisa bicara yang tidak-tidak ke loe, Ren?
“Waktu gue ngilang,
loe nyatain perasaan loe kan ke Kak Gilang? Terus loe ceritain tentang mimipi
gue ke Kak Gilang dan lebih parahnya lagi loe bilang kalau orang disekitar gue
bakalan meninggal gara-gara mimpi gue” nada suara Lauren semakin meninggi
Aku benar-benar tidak
mengerti apa yang sebenarnya yang terjadi. Lauren kemudian menatapku tajam
matanya berubah jadi merah. Angin diruang tamu begitu kencang hingga
menggoyangkan seluruh gorden jendela.
“Hahahaha….Halo Reva,
senang bisa lihat wajahmu yang cantik ini” suara Lauren tiba-tiba merubah jadi
seperti nenek sihir
Aku
ketakutan hingga membuat wajahku pucat. Lauren telah dirasuki oleh sosok nenek
tua yang sangat mengerikan. Suaranya bikin sakit telingaku. Senyumnya miring
dibarengi dengan tatapan tajam dari matanya yang merah.
“Pasti kamu penasaran
kan dengan sosok nenek tua di mimpi Lauren, inilah aku hahahah”
“ka..kamu kenapa
merasuki tubuh Lauren? Kamu siapa? Keluar dari tubuh Lauren sekarang juga”
Bibirku
gemetar. Aku bisa merasakan dinginnya bibirku. Pintu tiba-tiba menutup sendirinya.
Ruang tamu jadi semakin gelap dan mencekam. Makhluk apa saat ini yang merasuki
Lauren?
“Aku adalah nenek tua
yang muncul dimimpi Lauren, aku juga yang merasuki tubuhmu. Tubuh kalian
memiliki energi yang bagus. Aku suka sekali.hahahaha”
Kututup telingaku
saat mendengar nenek tua itu tertawa. Tak bisa kubayangkan bahwa nenek tua
itulah yang menciptakan kekacauan antara aku dan Lauren. Pantas saja sedari
tadi aku tidak tidak mengerti apa yang diucapkan Lauren ternyata aku telah
dirasuki oleh nenek tua ini. Aku geram kuambil gelas diatas meja dan memukulnya
ke kepala Lauren. Aku berharap setelah kupukulkan gelas itu roh nenek tua jahat
yang masuk ketubuh Lauren keluar seperti yang kunonton di film-film. Gelas
mendarat tepat dikepala Lauren, nenek tua itu tidak berekasi sedikitpun justru
tanganku yang berdarah karena pecahan gelas. Ditariknya tubuhku hingga aku
hamper menepel diwajahnya, badanku dilempar hingga mengenai sudut kursi. Kurasa
tulang-tulangku remuk. Aku tak mampu berdiri.
“Hei perempuan lemah,
jangan berani-berani melawanku. Asal kau tahu Lauren sudah meracunimu. Barusan
kau sudah meminum racun hahahah”
Suaranya lagi-lagi
bikin telingaku sakit
“apaa? Meracuniku?”
“Aku mendatangi
Lauren dalam mimpinya dan memberitahunya bahwa kau akan meninggal, dan dialah
yang membunuhmu, hahahah…aku suka permainan ini sungguh gampang mempermainkan
kalian berdua”
“Dasar nenek tua
jahaaattt” aku berteriak sangat kencang, aku tidak mampu berdiri melawan roh
jahat yang bersarang ditubuh Lauren itu.
“Terserah, aku hanya
tidak suka dengan yang namanya persahabatan. Mau kuberitahu satu rahasia lagi?
Nenek tua itu
mendekatiku dan membisiku. Kurasakan hawa panas keluar dari mulutnya memasuki
telingaku. Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kemarahan yang berapi-api. Aku
tidak berdaya. Sepertinya racun yang kuminum telah membuat kakiku tidak bisa
bergerak.
“Diammm
kamuuuuu,,,keluar dari tubuh Lauren sekarang” aku berteriak sekuat tenaga. Aku
berharap suaraku bisa membuatnya sakit dan keluar dari tubuh Lauren, tapi
lagi-lagi aku digampar oleh nenek tua itu. tak kurasakan lagi pedih dipipiku.
Yang kurasakan hanyalah sakit hati karena dipermainkan oleh nenek tua ini.
Karena merasuki tubuhku dan tubuh Lauren dan merusak persahabatan kami.
“Aku lah yang
mendorong Lauren dari tebing tapi aku memanfaatkan tubuhmu, hahahahah”
Tawa kemenangan nenek tua itu makin melengking hingga mengisi seluruh ruangan. Dia benar-benar puas mempermainkan aku dan Lauren. Dengan sekuat tenaga kucekek leher Lauren namun tangent besarnya lebih dulu mengangkat tubuhku.dipeganya leherku tubuhku diangkat hingga kakiku sudah tidak lagi menyentuh lantai. Aku meronta, menendang tubuh Lauren yang saat ini dirasuki oleh nenek tua jahat itu. Kupegang tangan yang mecekik leherku namun, aku tak mampu melepaskannya. Tenggorokanku seakan diremukkan olehnya. Hanya suara akh…akh….akh yang keluar dari mulutku. Tak sanggup ku bernapas. Kurasakan aliran darahku naik kewajahku. Badanku di banting ke tembok. Aku terhuyung kelantai. Mataku semakin menyempit. Kulihat sosok nenek tua itu tertawa.
~The End~
Komentar
Posting Komentar