Mimpi:Misteri Mimpi Lauren (part 3)

 #fiksinely

Kecelakaan Desa Citatah

Pagi ini langit sangat cerah, mentari pagi yang kuning menyinari pipiku, udaranya masih dingin,masih fresh. Ku hirup rasanya nyaman sekali. Kurasa Paru-paruku kembali bersih. Hidup di kota besar meski tidak semetropolitan Jakarta, membuatku sakit, sakit karena terlalu sumpek, asap rokok dan kendaraan dimana-mana. Desa Citatah ini masih belum terkotori dengan tangan jail manusia. Pohon-pohonnya masih lebat, hewan-hewannya masih berkeliaran hidup bebas, tidak ada polusi kendaraan, bahkan sampah pun jarang ku temui. Yang menjadi ikon Desa ini adalah tebing batunya yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang datang ke sini untuk memanjat tebing batu tersebut. Desa ini belum terlalu diketahui orang jadi yang datang hanya Mahasiswa-mahasiswa pecinta alam, anak ekspedisi alam yang ingin menaklukan tebing batu yang tingginya sekitar  45 meter.  

Aku dan Lauren tergabung dalam komunitas ekspedisi alam. Organisasi kampus yang kami pilih ini mungkin terbilang ekstrem dan ‘cowok’ banget. Masuk dalam komunitas ekspedisi alam ini adalah saran dari Lauren. Lauren yang girly menyukai hal yang menantang dan ekstrim. Aku ikut-ikut saja karena aku selalu ingin bersama dengan Lauren. Meski aku menolak, Lauren pasti tetap akan mengancamku dengan mata tajamnya untuk ikut bergabung masuk komunitas ekspedisi alam. Kami mahasiswa baru angkatan 2016 tentulah ingin punya pengalaman banyak terutama dalam komunitas. Ingin punya banyak teman, punya banyak gebetan, dan punya banyak cerita. Kami mahasiswa baru yang masuk di komunitas ini tentulah tidak mengetahi se ekstrim itu kegiatanya, memanjat tebing batu yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa jika tidak berhati-hati dan tidak memakai perlengkapan yang safety. Kami memang tidak dituntuk untuk harus memanjat karena masih junior, masih baru, belum memiliki pengalaman memanjat dan berbahaya. Membayangkan saja membuatku takut bisa geger otakku jika aku jatuh dari ketinggian tebing batu. Kedatangan kami di kawasan Citatah ini bukan semata-mata hanya untuk memanjat tebing batu yang terkenal di Desa ini melainkan untuk merayakan dan menyambut mahasiswa baru yang bergabung di komunitas ini. 32 orang anak baru termasuk dan 25 senior akan menikmati indahnya panorama tebing batu Desa Citatah.

Kami berkumpul dibalai Desa Citatah mendengarkan pengarahan seorang guide Desa Citatah yang juga seorang pemanjat profesional dan tentunya senior kami. Kami mendengarkan dengan tenang setiap materi yang dibawakan mulai dari cara memanjat yang baik dan benar, diperkenalkan dengan tali dan perlengkapan pelindung saat akan memanjat, mental yang harus di miliki oleh seorang pendaki, hingga ceita pengalaman. Sesekali kulihat teman-temanku mencatat point penting yang mereka dengar di note mereka ada yang memoto dan ada juga yang selfie. Kulihat Lauren dengan serius memperhatikan Kak Rio yang sedang berbicara didepan yang juga Ketua dari komunitas ekspedisi alam.

“Gila, ni anak serius amat” kataku dalam hati.

Satu jam dalam balai Desa membuat keringatku bercucuran. Maklum di Desa tidak ada AC yang ada cuma Angin Cepoi-cepoi. Kukipas wajahku dengan buku catatan. Dibawah pohon mangga ku tatap langit siang, sangat cerah kurasakan angin menggoyangkan daun mangga tempatku berteduh masuk kedalam hidungku,oh sejuknya,enakya

“Mmmm… ademnya jadi pengen baring”

“Jalan-jalan yuk,nyapa-nyapa warga Desa!” ajak Lauren

“Aduh Ren, pliss deh gue tuh lagi ngadem,nikmatin angin sepoi-sepoi Desa Citatah kan jarang-jarang bisa kayak gini”

“Akhh gak asik loe,loe mau kejatuhan tuh mangga”

Lauren pergi meninggalkanku. Tak kukejar karena tenaga baru kuisi, kekenyangan yang hakiki ditambah ademnya angin sepoi-sepoi dan pemandangan tebing batu yang cantik. Kulihat dari kejauhan Lauren menerima telpon, mungkin itu telpon dari Mang Asep, Ayah Lauren atau Mbok Sri yang mengingatkan Lauren untuk berhati-hati dan jangan lupa makan. Angin sepoi-sepoi yang syahdu membuat mataku berat. Kuputuskan untuk baring-baring sebentar di bangku panjang tempatku duduk. Ini adalah surga yang kudapat di Desa ini, tidur siang padahal masih jam 10 dibawah naungan pohon mangga hiku. Pasti akan bertambah syahdu jika salah satu mangga hiku itu jatuh tepat diatas kepalaku.

Memang betul kata puisi-puisi yang kubaca saat SD dulu alam Desa selalu memanjakkan mata, menenangkan hati, dan merileskan pikiran. Tak kusadari aku tertidur dibawah rayuan pohon mangga hiku. Aku terbangun karena mangga hiku besar dan masak jatuh mengenai bangku tempatku tidur. Untung saja tidak strike kena jidatku bisa benjol dibuatnya. Kuperhatikan disekelilingku tidak ada orang sama sekali yang lewat yang kudengar hanya suara Adzan dari masjid yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatku tidur. Kuperhatikan jam ditangan kananku, sudah pukul 12.00 siang. Enak benar tidurku sampai lupa waktu begini. Kurapikan rambutku yang acak-acakan dan bajuku yang mencong kiri kanan. Aku kembali di pos penginapan dengan wajah puas, puas karena sudah tidur siang nyenyak. Setibanya di pos tak kudapati teman-temanku maupun senior barang-barang dan tas-tas yang menumpuk diruang tamu sudah kosong tak tersisa, apakah mereka sudah memulai eskpedisinya? Yang kutemui hanya Mbok Asih dan anaknya yang masih kecil pemilik rumah itu. Dengan tatapan heran Mbok Asih menanyaiku.

“Loh Mbak Reva ada ketinggalan barang toh?”

Aku menyernyitkan alisku, tak mengerti dengan perkataan Mbok Asih.

“Maksud Mbok apa ya? Saya gak ketinggalan barang, saya baru ajah dari Balai Desa, ketiduran di bawah pohon mangga heheh…”

“Semua orang udah pada pulang loh Mbak,Mbak gak tahu?”

Aku makin heran, sepertinya aku dikerjain nih sama teman-temanku dan senior.

“Ih Mbok nih bercanda ajah, orang pulangnya lusa kok udah main pulang ajah,masa aku ditinggalin. Aku dikerjainkan kan Mbok?”

Kini Mbok Asih yang pasang wajah heran

“Dikerjain gimana toh Mbak, orang teman-teman Mbak udah pada pulang karena itu teman Mbak yang cantik itu, namanya……Lauren jatuh dari tebing batu Mbak”

Sontak aku kaget bukan main permainan apa ini. Skenarionya benar-benar hebat membuatku kaget hingga jantungku hampir keluar bulat-bulat dari mulutku.

“Apaa…..? Mbok bercanda nih”

“Gak Mbak, teman Mbak itu tadi jatuh terus dibawa ke Rumah Sakit. Darahnya banyak banget, ihhh Mbok sampai gak tega lihatnya. Semua teman-teman Mbak udah pada pulang semua nganterin kerumah sakit”.

Kupegangi dadaku,kurasakan bagaimana jantungku berdegup kencang,sangat kencang. Napasku jadi tidak karuan. Melihat ekspresi wajahku, Mbok Asih langsung kedapur mengambilkan ku minum.

“Minum dulu Mbak, tenangin diri dulu”

Ku minum air putih yang disodorkan Mbok Asih. Tak kurasakan air itu masuk kekerongkonganku. Pikiranku melayang-layang. Kenapa Lauren bisa jatuh dari tebing.

“Mbok sekarang aku mau balik ke Bandung. Tolong panggilin Pak Harun buat ngantar aku yah Mbok” pintaku dengan napas yang tidak karuan.

Mbok Asih langsung pergi menemui Pak Harun. Tidak lama kemuadian, Mbok Asih sudah datang dengan mobi angkutan umum dan Pak Harun di jok supir. Lekas aku berdiri dan masuk kedalam mobil.

“ Mbok makasih ya, aku permisi dulu. Assalamu’alaikum”

“Walaikum salam, hati-hati Mbak. Run jangan balep-balep ya” Pesan Mbok Asih ke Pak Harun

Aku meninggalkan Desa Citatah dengan perasaan campur aduk. Aku khawatir dengan keaadan sahabatku saat ini. Apakah dia akan baik-baik saja? Apakah lukanya tidak parah? Bisakah dia bertahan? Semua pertanyaan ini masuk dalam pikiranku. Air mataku tidak berhenti tumpah meski kulap dengan tisu tetap saja terus tumpah. Hingga tisup dimobil Pak Harun hampr kuhabiskan setengah. Selama perjalanan kutelpon Kak Rio, ketua komunitas kami. Syukurlah di angkat olehnya. Mendengar suara telpon itu diangkat langsung kucercai Kak Rio dengan pertanyaan.

“Kak, bagaimana sekarang keadaan Lauren sekarang? Dia baik-baik ajah kan? Lukanya gak parahkan? Dia hanya pingsan kan Kak?”

Kak Rio tidak menjawab semua pertanyaanku. Hanya kalimat singkat yang dia ucapkan dan menyuruhku untuk tenang dan atur napas

“Sekarang Lauren sedang di operasi,gak usah khawatir. Atur napas dulu biar ngomongnya rileks. Kita semua di Rumah Sakit Advent. kamu hati-hati dijalan”

Kak Rio menutup telponnya. Ia tahu kepanikanku akan menjadi jika ia bilang Lauren terluka parah. Ucapan Ka Rio tadi belum juga menenangkan pikiranku. Jantungku masih saja berdegup kencang. Aku takut kalau Lauren akan meninggal itu yang ada dipikiranku saat ini.

Dua jam perjalanan sampailah aku di Rumah Sakit. Setelah berterima kasih kepada Pak Harun akupun langsung lari ke meja resepsionis menanyakan ruangan operasi atas nama pasien Lauren Silvia Wisnu. setelah  diberitahu oleh staff rumah sakit, aku dengan cepat menuju ruang operasi. Sesampainya didepan ruang operasi, kulihat beberapa teman-temanku dan senior duduk dikursi tunggu, ada yang berdiri bersandar di tembok, ada yang duduk melantai sambil tidur. Kak Rio langsung menyamperi aku.

“Kak kenapa aku gak diberitahu? Kenapa…..kenapa bisa Lauren jatuh dari tebing itu?

Sebelum menjawab pertanyaanku Kak Rio menepuk bahuku, berusaha menenangkanku

“Kita semua panik Va, kita udah gak bisa berfikir jernih buat ngabarin kamu, yang terpintas dipikiran kakak cuma membawa Lauren kerumah sakit”

Ku akui apa yang dikatakan Kak Rio itu benar. Keselamatan Lauren yang terpenting saat itu.

“Lauren terjatuh saat dia berjalan-jalan di hutan dekat tebing batu. Kronologinya bagaimana Kakak juga gak tahu. Ini salah Kakak seharusnya bisa menjaga dan mengawasi kalian”

Aku hanya diam. Dalam benakku aku berkata bahwa semua itu bukan kesalahan Kak Rio melainkan salahku seharusnya sewaktu Lauren memintaku untuk berkeliling Desa menyapa warga aku ikut dengannya. Sehingga kejadian ini tidak terjadi. Aku malah asik tidur dibawah pohon mangga. Aku seharusnya yang tahu lebih dulu Lauren mengalami kecelakaan itu tapi aku malah asik tidur. Fuck dengan diriku ini. Sahabat macam apa aku ini.

Air mataku semakin tumpah mengingat kejadian itu. Kak Rio memberikan sapu tangan dari saku celananya. Ku lap air mataku dengan sapu tangan yang bau parfum cowok itu. Mencium aromanya aku sedikit tenang.

“Udah kamu istirahat saja dulu. Kakak beliin minum dulu ya. Kamu pasti capek”

Aku mengangguk. Kusandarkan punggungku ke kursi. Rasanya kepalaku hendak pecah. Kututup mataku dan mengatur napas. Mencoba menenangkan diriku sendiri sesekali kulihat pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Dalam hati aku berharap semoga Lauren tidak apa-apa, semoga operasinya berjalan lancar. Setelah pikiranku tenang ku telpon Mang Asep and Ayah Lauren, Pak Wisnu mengabari mereka bahwa Lauren mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dioperasi.

Satu persatu temana-temanku dan kakak senior pergi, hanya ada aku dan Kak Rio yang menunggu di depan pintu ruang operasi. Kulihat Kak Rio diduduk didepanku sambil menyilangkan lengannya, matanya tertutup, aku tahu dia pasti sangat mengantuk dan capek. Melihat sikap dan kepedulian Kak Rio kepada Lauren membuatku takjub dia adalah sosok ketua yang sangat bertanggung jawab, pemimpin yang peduli kepada rekan dan temannya. Mang Asep dan Mbok Sri datang dengan mata berkaca-kaca. Mbok Sri memelukku, tangisnya tumpah.

“Ya Allah kenapa bisa Mbak Lauren kecelakaan?”

“Lauren jatuh dari tebing batu Mbok saat hendak jalan-jalan dihutan sendirian, aku gak nemenin dia tadi Mbok” aku ikut menangis

Mang Asep berdiri tepat didepan pintu ruang operasi. Bisa kurasakan bagaimana perasaannya saat ini sama seperti saat aku. Berkali-kali ia bolak-balik dengan wajahnya yang penuh cemas. Kak Rio menghampiri MAng Asep, aku tak tahu apa yang dia ucapkan ke Mang Asep tapi setelah Kak Rio menghampirinya, Mang Asep langsung duduk dikursi tunggu. Kami semua diam hanya suara isak tangis Mbok Sri yang terdengar.

Hampir tiga jam Lauren dioperasi, dokter yang mengoperasi Lauren pun membuka pintu ruang operasi yang sedari tadi terkunci rapat. Betapa leganya kami mendengar kabar operasi Lauren berjalan lancar, kami hanya bisa menunggu sampai dia sadar. Lauren dipindahkan keruang rawat. Kami dilarang masuk bersamaan hanya satu, dua orang yang boleh masuk. Kupersilahkan Mang Asep dan Mbok Sri masuk pertama melihat keadaan Lauren . Aku duduk di kursi tunggu, diluar bersama Kak Rio.  Kupinta Kak Rio untuk pulang beristirahat, karena sedari tadi ia menemani kami dan mondar mandiri membawakan air minum dan makanan untukku Mang Asep, dan Mbok Sri.

“Kak,mending Kakak pulang ajah dulu, Kakak pasti capek banget dari Desa Citatah sampe sini masih ngurusin kita”

“Udah gak apa-apa kok,nanti kalau Lauren sudah sadar baru aku pulang”

Aku makin kagum sama sikap Kak Rio sungguh idola banget. Dua jam berlalu Lauren akhirnya sadar, betapa senangnya hatiku. Sedikit demi sedikit dia membuka matanya. Dokter yang menanganinya pun segera menanyai Lauren.

“Lauren,kamu sudah sadar? Kamu tahu siapa orang-orang ini?”

Lauren menatap kami satu persatu  tapi dia menggeleng. Gubrak aku langsung lemas. Kenapa ini, kenapa Lauren tidak mengenali kami.

“Ini Ayah sayang, ini Reva, ini Mang Asep, ini Mbok Sri” kata Ayah Lauren,menunjuk kami satu-satu

Lauren hanya terdiam,tatapannya memang menunjukan bahwa dia tidak mengenal kami. Kami seperti orang asing baginya.

“Dok, apa anak saya ini hilang ingatan akibat kecelakaan itu? Tanya Ayah Lauren ke Dokter

“Kemungkinan ia, tapi kita akan melakukan CT Scan terlebih dahulu supaya lebih jelasnya, sebaiknya Lauren saat ini jangan dipaksa dulu mengingat yang berat-berat terutama tentang kecelaaan itu”

“Ia Dokter”

Aku, Mang Asep, dan Mbok Sri keluar dari ruangan Lauren dengan wajah sedih. Kak Rio yang sedari tadi menunggu diluar memandangku heran.

“Va, kamu kenapa? bukannya Lauren sudah sadar”

Aku langsung menangis menutup wajahku dengan tanganku. Kak Rio makin heran.

“Mbak Lauren hilang ingatan, Mas Rio” jawab Mang Asep

“Astaga, berarti Lauren gak bisa ngingat kita semua?”

Aku mengangguk mengiyakan ucapakan Kak Rio.

“Va, udah jangan nangis lagi, percayalah Lauren akan dapatkan kembali ingatannya, Lauren pasti bakalan ingat sama kamu,sama kita semua” Kak Rio lagi-lagi menenangkanku tapi kali ini beda, disandarkannya kepalaku dibahunya sambil menepuk bahunya. Aku terhanyut dalam pundak Kak Rio yang kokoh, rasanya semua airmataku membasahi jaket parkanya. Aku tak peduli siapa suruh dia menarik kepalaku dia bahunya. Aku hanya memikirkan Lauren. Kenapa semua ini bisa terjadi padamu? Bagaimana bisa Lauren melupakan aku? kita sahabatan dari kecil kini dia akan menganggapku orang asing.

 

Ditembak Kak Rio

Lauren mengajakku keluar malam ini. Seperti biasa jika mengajak aku keluar malam pasti ia akan curhat mengenai hubungannya dengan Kak Gilang. Aku selalu menjadi pendengar yang setia untuknya. Aku penasaran kali ini masalahnya apa lagi. Apakah Kak Gilang yang masih menunda-nunda untuk wisuda? Atau Lauren yang mulai bosan? Pukul 19.00 kami janjian bertemu di Cafe favorit kami, Warm and Cozy Cafe. Sesuai namanya Cafe ini nyaman sekali bisa bikin betah. Designnya yang instagramable menjadi daya tarik para selebgram dan anak muda untuk nongkrong di cafe ini tentunya untuk cekrek-cekrek manja mengisi feed instagram. Makanan dan minumannya juga tidak kalah enak, tidak hanya enak tapi ringan dikantong. Makanya, café ini milenial banget kalau kata orang.

“Va. Loe pakaian yang cantik ya”

“Gue selalu baju yang cantik kali ya, Ren. Kecantikan gue tetap nambah meski pake karung”

“Pantasen ajah loe gak punya cowok, selera fashion lo itu unik” ledek Lauren

Sesuai jam janjian aku sudah sampai duluan. Seperti biasa Lauren masih asik berdandan dimeja riasnya. Sering kali aku memarahi gadis itu setiap janjian akunya yang selalu menunggu lama. Kutanya kenapa lama sekali katanya dia lagi make up dengan tema no make up  look. Aku sama sekali tidak mengerti dengan no make up look, kelihatannya memang tidak seperti memakai make up tapi lamanya bukan main. Butuh berjam-jam untuk no make up look yang simple.

“Ren, buruan ahh capek nih gue nungguin loe” gerutuku lewat telpon

“ Udah loe santai ajah dulu, rileksin tuh badan loe yang kaku-kaku,gue udah jalan nih”

Katanya sudah dijalan tapi sedari tadi tidak ada tanda-tanda kehadiran Lauren. Kusambungkan wifi cafe ke handphoneku untuk membunuh waktu menunggu ini.  Banyak notifikasi dari sosmedku masuk ke layar HPku. Tak ku cek satu persatu, aku fokus membaca lanjutan cerita dari webtoon yang kubaca sebelum datang kesini.

“Mbak, ini Caramel Macchiatonya” kata seorang waiter membawakan pesananku.

“ Ia makasih mas” jawabku singkat tak menoleh sedikitpun dari layar handphoneku

Ku minum Caramel macciatoku, rasanya sangat pas bikin urat-uratku rileks. Aku sudah menyiapakan kata-kata manis untuk Lauren yang telah membuatku menunggu 30 menit lamanya. Kulihat ada sebuah tissue di samping minumanku,kuambil tisu itu kulapkan di bibirku. Aku terkejut melihat tulisan tangan dibaliknya. “mau jadi pacarku?” ku nyernyitkan keningku sambil tersenyum kecil

“Kuno banget sih ni orang, masih ada orang kayak gini ya” pikirku dalam hati

Tak kupedulikan tulisan dibalik tisu itu. Aku yakin ini hanya iseng-iseng. Aku benar-benar tidak tertarik untuk tahu siapa orang jahil yang telah mengirim ini padaku. Pikiranku hanya tertuju pada Lauren, kenapa bisa dia lama sekali. Sebuah homeband music di cafe ini membawakan sebuah lagu untuk menghibur para pengunjung. Lagunya Ariana Grande yang one last time terdengar merdu ditelingaku, tak kusadari kepalaku bergoyang mengikuti alunan lagu. Kudengar seseorang memanggilku dari belakang. Aku berbalik ke sumber suara yang memanggilku.

“Kak Rio?” kataku menebak. Aku memang tahu itu Kak Rio, aku hanya tidak menyangka akan bertemu dengannya  disini setelah 2 tahun lalu yang lalu.

“Hai, Va” sapa Kak Rio langsung mengambil kursi didepannku padahal tak kusuruh duduk

“Kak Rio ngapain disini?” aku tahu itu pertanyaan yang tidak cocok untuk orang yang sudah 2 tahun tidak bertemu

“Yahhh,nongkrong ajah. Kan anak muda. Eh kamu sendirian ajah”

“Lagi nungguin Lauren Kak”

“Oh gitu ya, gimana Lauren sekarang ? ingatannya udah pulih?

Aku menggeleng. Tidak mungkin aku katakan bahwa Lauren sekarang sudah jadi dukun yang bisa melihat orang akan meninggal setelah mengalami di Desa Citatah 2 tahun lalu. Kak Rio melihat tisu disamping minumanku. Aku yakin dia membaca tulisan di tisu itu”

“Itu apa?” katanya sambil menunjuk tisu disampng minumanku

“Oh ini, aku gak ngerti juga. Tadi waktu mas waiter bawain pesananku eh tiba-tiba ada tisu yang ditulisan ngaconya. Gak aku gubris. Palingan juga iseng. Jadul bangetkan, Kak?” Aku tertawa sendiri sementara Kak Rio terlihat serius

“Itu dari aku”

Tawaku langsung hilang dari wajahku berubah menjadi serius. Langsung ku tatap wajah Kak Rio. Dia benar-benar serius.

“Ini beneran Kak” kataku tak percaya

“Ia beneran, kamu mau jadi pacarku?”

Aku tidak bisa berkata-kata. Perjumpaan macam apa ini. Ini semua terlalu tiba-tiba. Sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengan Kak Rio tiba-tiba dia muncul dihadapanku dan menyatakan perasaanya padaku.  Ku akui Kak Rio orang yang baik, aku sempat kagum padanya saat dirumah sakit 2 tahun lalu.

“Gue lagi ditembak beneran nih sama Kak Rio?” tanyaku dalam hati

“Jadi gini Va, Kak Rio itu udah lama suka sama kamu, sejak 2 tahun lalu lebih tepatnya sih mulainya saat di Desa Citatah. Aku tahu kamu kaget dan syok banget pas aku nembak barusan, ini semua udah direncanaan sama Lauren dan aku”.

Aku bertambah kaget bercampur tak percaya ini semua sudah direncanakan oleh Kak Rio dengan Lauren. Jadi, Lauren mengajakku bertemu di sini buat menjalankan misinya. Rencana mereka sangat apik. Tak dapat berkata-kata aku dibuatnya.

“Sejak 2 tahun lalu sampe sekarang Kak Rio selalu nge perhatiin kamu, Va”

“Sampe sekarang? Tanyaku tak percaya

“Aku selalu nanyain kabar kamu sama Lauren. Aku minta Lauren untuk kasi tahu semua informasi tentang kamu. Aku nanyain kamu terus”

“Kenapa gak ngomong langsung ke aku ajah Kak” Nada bicara sedikit meninggi aku sedikit kesal.

“Karena kamu pernah bilang gak mau pacaran sama pengangguran, gak mau pacaran sama cowok yang gaya-gayaan doang tapi suka ngabisin duit orang tua”

Aku langsung mengingat kembali perkataanku dulu. Aku tak menyangka Kak Rio mendengar ucapanku dulu sewaktu eskpedisi Alam di Desa Citatah. Lauren pernah bertanya padaku kenapa aku menolak Rizal. Aku menjawab bahwa Rizal masih pengangguran, bukan karena aku matre tapi aku tidak suka dengan laki-laki-laki yang mengambur-hamburkan duit orang tuanya untuk gaya-gayaan saja.

“Aku mau nembak kamu disaat aku udah gak jadi pengangguran lagi. Aku sekarang udah bisa hasilin duit sendiri Va, jadi aku merasa sudah pantas untuk nyatain perasaanku ke kamu”

Aku sangat tersentuh mendengar kata-kata Kak Rio. Laki-laki didepanku ini sangat dewasa. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan tatapanku darinya. Aku bisa merasakan jantungku dag dig dug serr tak karuan aku bahkan sampai salah tingkah. Entahlah wajahku sekarang seperti apa mungkin akan gosong sebentar lagi lantaran panasnya.

“Jadi gimana Va,kamu mau gak jadi pacarku?”

Jauh dilubuk hatiku terdalam aku mengatakan ia namun aku masih malu untuk bilang. Aku tidak punya alasan untuk tidak menerima laki-laki baik didepan mataku ini. Semua yang ada pada dirinya adalah apa yang aku harapkan dari seorang pria. Handphone ku bergetar kulihat ada chat masuk dari Lauren

“Udah terima ajah deh, Kak Rio udah tahu loe suka sama dia. Gue udah nyeritain semua ke dia kalau loe pernah naksir dia”

Aku malu sekali membaca chat dari Lauren. Jadi Lauren ini mata-matanya Kak Rio. Dia menceritakan semua curhatanku pada Kak Rio. Pastilah Kak Rio merasa percaya diri sekali menembakku malam ini karena ia sudah tahu aku pernah naksir dia dan malam ini dia menanyakan apa cinta itu masih ada. Aku hanya tertawa malu dihadapan Kak Rio sambil menutup wajahku. Kurasa ia tahu apa jawabanku.

                                                                                                                                  To be continued........

 

Komentar