#fiksinely
Kecelakaan Desa Citatah
Pagi ini langit sangat
cerah, mentari pagi yang kuning menyinari pipiku, udaranya masih dingin,masih
fresh. Ku hirup rasanya nyaman sekali. Kurasa Paru-paruku kembali bersih. Hidup
di kota besar meski tidak semetropolitan Jakarta, membuatku sakit, sakit karena
terlalu sumpek, asap rokok dan kendaraan dimana-mana. Desa Citatah ini masih belum
terkotori dengan tangan jail manusia. Pohon-pohonnya masih lebat,
hewan-hewannya masih berkeliaran hidup bebas, tidak ada polusi kendaraan,
bahkan sampah pun jarang ku temui. Yang menjadi ikon Desa ini adalah tebing
batunya yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang datang ke sini untuk
memanjat tebing batu tersebut. Desa ini belum terlalu diketahui orang jadi yang
datang hanya Mahasiswa-mahasiswa pecinta alam, anak ekspedisi alam yang ingin
menaklukan tebing batu yang tingginya sekitar
45 meter.
Aku
dan Lauren tergabung dalam komunitas ekspedisi alam. Organisasi kampus yang
kami pilih ini mungkin terbilang ekstrem dan ‘cowok’ banget. Masuk dalam
komunitas ekspedisi alam ini adalah saran dari Lauren. Lauren yang girly menyukai hal yang menantang dan
ekstrim. Aku ikut-ikut saja karena aku selalu ingin bersama dengan Lauren.
Meski aku menolak, Lauren pasti tetap akan mengancamku dengan mata tajamnya
untuk ikut bergabung masuk komunitas ekspedisi alam. Kami mahasiswa baru
angkatan 2016 tentulah ingin punya pengalaman banyak terutama dalam komunitas.
Ingin punya banyak teman, punya banyak gebetan, dan punya banyak cerita. Kami
mahasiswa baru yang masuk di komunitas ini tentulah tidak mengetahi se ekstrim
itu kegiatanya, memanjat tebing batu yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa jika
tidak berhati-hati dan tidak memakai perlengkapan yang safety. Kami memang tidak dituntuk untuk harus memanjat karena
masih junior, masih baru, belum memiliki pengalaman memanjat dan berbahaya. Membayangkan
saja membuatku takut bisa geger otakku jika aku jatuh dari ketinggian tebing
batu. Kedatangan kami di kawasan Citatah ini bukan semata-mata hanya untuk
memanjat tebing batu yang terkenal di Desa ini melainkan untuk merayakan dan
menyambut mahasiswa baru yang bergabung di komunitas ini. 32 orang anak baru
termasuk dan 25 senior akan menikmati indahnya panorama tebing batu Desa Citatah.
Kami
berkumpul dibalai Desa Citatah mendengarkan pengarahan seorang guide Desa Citatah yang juga seorang pemanjat
profesional dan tentunya senior kami. Kami mendengarkan dengan tenang setiap
materi yang dibawakan mulai dari cara memanjat yang baik dan benar,
diperkenalkan dengan tali dan perlengkapan pelindung saat akan memanjat, mental
yang harus di miliki oleh seorang pendaki, hingga ceita pengalaman. Sesekali
kulihat teman-temanku mencatat point penting yang mereka dengar di note mereka ada yang memoto dan ada juga
yang selfie. Kulihat Lauren dengan
serius memperhatikan Kak Rio yang sedang berbicara didepan yang juga Ketua dari
komunitas ekspedisi alam.
“Gila, ni anak serius
amat” kataku dalam hati.
Satu
jam dalam balai Desa membuat keringatku bercucuran. Maklum di Desa tidak ada AC
yang ada cuma Angin Cepoi-cepoi. Kukipas wajahku dengan buku catatan. Dibawah
pohon mangga ku tatap langit siang, sangat cerah kurasakan angin menggoyangkan
daun mangga tempatku berteduh masuk kedalam hidungku,oh sejuknya,enakya
“Mmmm… ademnya jadi
pengen baring”
“Jalan-jalan
yuk,nyapa-nyapa warga Desa!” ajak Lauren
“Aduh Ren, pliss deh
gue tuh lagi ngadem,nikmatin angin sepoi-sepoi Desa Citatah kan jarang-jarang
bisa kayak gini”
“Akhh gak asik
loe,loe mau kejatuhan tuh mangga”
Lauren
pergi meninggalkanku. Tak kukejar karena tenaga baru kuisi, kekenyangan yang
hakiki ditambah ademnya angin sepoi-sepoi dan pemandangan tebing batu yang
cantik. Kulihat dari kejauhan Lauren menerima telpon, mungkin itu telpon dari
Mang Asep, Ayah Lauren atau Mbok Sri yang mengingatkan Lauren untuk
berhati-hati dan jangan lupa makan. Angin sepoi-sepoi yang syahdu membuat mataku
berat. Kuputuskan untuk baring-baring sebentar di bangku panjang tempatku
duduk. Ini adalah surga yang kudapat di Desa ini, tidur siang padahal masih jam
10 dibawah naungan pohon mangga hiku. Pasti akan bertambah syahdu jika salah
satu mangga hiku itu jatuh tepat diatas kepalaku.
Memang betul kata
puisi-puisi yang kubaca saat SD dulu alam Desa selalu memanjakkan mata,
menenangkan hati, dan merileskan pikiran. Tak kusadari aku tertidur dibawah
rayuan pohon mangga hiku. Aku terbangun karena mangga hiku besar dan masak
jatuh mengenai bangku tempatku tidur. Untung saja tidak strike kena jidatku
bisa benjol dibuatnya. Kuperhatikan disekelilingku tidak ada orang sama sekali
yang lewat yang kudengar hanya suara Adzan dari masjid yang jaraknya hanya
beberapa meter dari tempatku tidur. Kuperhatikan jam ditangan kananku, sudah
pukul 12.00 siang. Enak benar tidurku sampai lupa waktu begini. Kurapikan
rambutku yang acak-acakan dan bajuku yang mencong kiri kanan. Aku kembali di
pos penginapan dengan wajah puas, puas karena sudah tidur siang nyenyak.
Setibanya di pos tak kudapati teman-temanku maupun senior barang-barang dan
tas-tas yang menumpuk diruang tamu sudah kosong tak tersisa, apakah mereka
sudah memulai eskpedisinya? Yang kutemui hanya Mbok Asih dan anaknya yang masih
kecil pemilik rumah itu. Dengan tatapan heran Mbok Asih menanyaiku.
“Loh Mbak Reva ada
ketinggalan barang toh?”
Aku menyernyitkan
alisku, tak mengerti dengan perkataan Mbok Asih.
“Maksud Mbok apa ya?
Saya gak ketinggalan barang, saya baru ajah dari Balai Desa, ketiduran di bawah
pohon mangga heheh…”
“Semua orang udah
pada pulang loh Mbak,Mbak gak tahu?”
Aku makin heran,
sepertinya aku dikerjain nih sama teman-temanku dan senior.
“Ih Mbok nih bercanda
ajah, orang pulangnya lusa kok udah main pulang ajah,masa aku ditinggalin. Aku
dikerjainkan kan Mbok?”
Kini Mbok Asih yang
pasang wajah heran
“Dikerjain gimana toh
Mbak, orang teman-teman Mbak udah pada pulang karena itu teman Mbak yang cantik
itu, namanya……Lauren jatuh dari tebing batu Mbak”
Sontak aku kaget
bukan main permainan apa ini. Skenarionya benar-benar hebat membuatku kaget
hingga jantungku hampir keluar bulat-bulat dari mulutku.
“Apaa…..? Mbok
bercanda nih”
“Gak Mbak, teman Mbak
itu tadi jatuh terus dibawa ke Rumah Sakit. Darahnya banyak banget, ihhh Mbok
sampai gak tega lihatnya. Semua teman-teman Mbak udah pada pulang semua
nganterin kerumah sakit”.
Kupegangi
dadaku,kurasakan bagaimana jantungku berdegup kencang,sangat kencang. Napasku
jadi tidak karuan. Melihat ekspresi wajahku, Mbok Asih langsung kedapur
mengambilkan ku minum.
“Minum dulu Mbak,
tenangin diri dulu”
Ku
minum air putih yang disodorkan Mbok Asih. Tak kurasakan air itu masuk
kekerongkonganku. Pikiranku melayang-layang. Kenapa Lauren bisa jatuh dari
tebing.
“Mbok sekarang aku mau
balik ke Bandung. Tolong panggilin Pak Harun buat ngantar aku yah Mbok” pintaku
dengan napas yang tidak karuan.
Mbok
Asih langsung pergi menemui Pak Harun. Tidak lama kemuadian, Mbok Asih sudah
datang dengan mobi angkutan umum dan Pak Harun di jok supir. Lekas aku berdiri
dan masuk kedalam mobil.
“ Mbok makasih ya,
aku permisi dulu. Assalamu’alaikum”
“Walaikum salam,
hati-hati Mbak. Run jangan balep-balep ya” Pesan Mbok Asih ke Pak Harun
Aku meninggalkan Desa
Citatah dengan perasaan campur aduk. Aku khawatir dengan keaadan sahabatku saat
ini. Apakah dia akan baik-baik saja? Apakah lukanya tidak parah? Bisakah dia
bertahan? Semua pertanyaan ini masuk dalam pikiranku. Air mataku tidak berhenti
tumpah meski kulap dengan tisu tetap saja terus tumpah. Hingga tisup dimobil
Pak Harun hampr kuhabiskan setengah. Selama perjalanan kutelpon Kak Rio, ketua
komunitas kami. Syukurlah di angkat olehnya. Mendengar suara telpon itu
diangkat langsung kucercai Kak Rio dengan pertanyaan.
“Kak, bagaimana
sekarang keadaan Lauren sekarang? Dia baik-baik ajah kan? Lukanya gak parahkan?
Dia hanya pingsan kan Kak?”
Kak Rio tidak
menjawab semua pertanyaanku. Hanya kalimat singkat yang dia ucapkan dan
menyuruhku untuk tenang dan atur napas
“Sekarang Lauren
sedang di operasi,gak usah khawatir. Atur napas dulu biar ngomongnya rileks.
Kita semua di Rumah Sakit Advent. kamu hati-hati dijalan”
Kak
Rio menutup telponnya. Ia tahu kepanikanku akan menjadi jika ia bilang Lauren
terluka parah. Ucapan Ka Rio tadi belum juga menenangkan pikiranku. Jantungku
masih saja berdegup kencang. Aku takut kalau Lauren akan meninggal itu yang ada
dipikiranku saat ini.
Dua
jam perjalanan sampailah aku di Rumah Sakit. Setelah berterima kasih kepada Pak
Harun akupun langsung lari ke meja resepsionis menanyakan ruangan operasi atas
nama pasien Lauren Silvia Wisnu. setelah
diberitahu oleh staff rumah sakit, aku dengan cepat menuju ruang operasi.
Sesampainya didepan ruang operasi, kulihat beberapa teman-temanku dan senior
duduk dikursi tunggu, ada yang berdiri bersandar di tembok, ada yang duduk
melantai sambil tidur. Kak Rio langsung menyamperi aku.
“Kak kenapa aku gak
diberitahu? Kenapa…..kenapa bisa Lauren jatuh dari tebing itu?
Sebelum menjawab
pertanyaanku Kak Rio menepuk bahuku, berusaha menenangkanku
“Kita semua panik Va,
kita udah gak bisa berfikir jernih buat ngabarin kamu, yang terpintas dipikiran
kakak cuma membawa Lauren kerumah sakit”
Ku akui apa yang
dikatakan Kak Rio itu benar. Keselamatan Lauren yang terpenting saat itu.
“Lauren terjatuh saat
dia berjalan-jalan di hutan dekat tebing batu. Kronologinya bagaimana Kakak juga
gak tahu. Ini salah Kakak seharusnya bisa menjaga dan mengawasi kalian”
Aku
hanya diam. Dalam benakku aku berkata bahwa semua itu bukan kesalahan Kak Rio
melainkan salahku seharusnya sewaktu Lauren memintaku untuk berkeliling Desa
menyapa warga aku ikut dengannya. Sehingga kejadian ini tidak terjadi. Aku
malah asik tidur dibawah pohon mangga. Aku seharusnya yang tahu lebih dulu
Lauren mengalami kecelakaan itu tapi aku malah asik tidur. Fuck dengan diriku
ini. Sahabat macam apa aku ini.
Air
mataku semakin tumpah mengingat kejadian itu. Kak Rio memberikan sapu tangan
dari saku celananya. Ku lap air mataku dengan sapu tangan yang bau parfum cowok
itu. Mencium aromanya aku sedikit tenang.
“Udah kamu istirahat
saja dulu. Kakak beliin minum dulu ya. Kamu pasti capek”
Aku
mengangguk. Kusandarkan punggungku ke kursi. Rasanya kepalaku hendak pecah.
Kututup mataku dan mengatur napas. Mencoba menenangkan diriku sendiri sesekali
kulihat pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Dalam hati aku berharap semoga
Lauren tidak apa-apa, semoga operasinya berjalan lancar. Setelah pikiranku
tenang ku telpon Mang Asep and Ayah Lauren, Pak Wisnu mengabari mereka bahwa
Lauren mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dioperasi.
Satu
persatu temana-temanku dan kakak senior pergi, hanya ada aku dan Kak Rio yang
menunggu di depan pintu ruang operasi. Kulihat Kak Rio diduduk didepanku sambil
menyilangkan lengannya, matanya tertutup, aku tahu dia pasti sangat mengantuk
dan capek. Melihat sikap dan kepedulian Kak Rio kepada Lauren membuatku takjub
dia adalah sosok ketua yang sangat bertanggung jawab, pemimpin yang peduli
kepada rekan dan temannya. Mang Asep dan Mbok Sri datang dengan mata berkaca-kaca.
Mbok Sri memelukku, tangisnya tumpah.
“Ya Allah kenapa bisa
Mbak Lauren kecelakaan?”
“Lauren jatuh dari
tebing batu Mbok saat hendak jalan-jalan dihutan sendirian, aku gak nemenin dia
tadi Mbok” aku ikut menangis
Mang
Asep berdiri tepat didepan pintu ruang operasi. Bisa kurasakan bagaimana
perasaannya saat ini sama seperti saat aku. Berkali-kali ia bolak-balik dengan
wajahnya yang penuh cemas. Kak Rio menghampiri MAng Asep, aku tak tahu apa yang
dia ucapkan ke Mang Asep tapi setelah Kak Rio menghampirinya, Mang Asep
langsung duduk dikursi tunggu. Kami semua diam hanya suara isak tangis Mbok Sri
yang terdengar.
Hampir
tiga jam Lauren dioperasi, dokter yang mengoperasi Lauren pun membuka pintu
ruang operasi yang sedari tadi terkunci rapat. Betapa leganya kami mendengar
kabar operasi Lauren berjalan lancar, kami hanya bisa menunggu sampai dia
sadar. Lauren dipindahkan keruang rawat. Kami dilarang masuk bersamaan hanya
satu, dua orang yang boleh masuk. Kupersilahkan Mang Asep dan Mbok Sri masuk
pertama melihat keadaan Lauren . Aku duduk di kursi tunggu, diluar bersama Kak
Rio. Kupinta Kak Rio untuk pulang
beristirahat, karena sedari tadi ia menemani kami dan mondar mandiri membawakan
air minum dan makanan untukku Mang Asep, dan Mbok Sri.
“Kak,mending Kakak
pulang ajah dulu, Kakak pasti capek banget dari Desa Citatah sampe sini masih
ngurusin kita”
“Udah gak apa-apa
kok,nanti kalau Lauren sudah sadar baru aku pulang”
Aku
makin kagum sama sikap Kak Rio sungguh idola banget. Dua jam berlalu Lauren
akhirnya sadar, betapa senangnya hatiku. Sedikit demi sedikit dia membuka
matanya. Dokter yang menanganinya pun segera menanyai Lauren.
“Lauren,kamu sudah
sadar? Kamu tahu siapa orang-orang ini?”
Lauren menatap kami
satu persatu tapi dia menggeleng. Gubrak
aku langsung lemas. Kenapa ini, kenapa Lauren tidak mengenali kami.
“Ini Ayah sayang, ini
Reva, ini Mang Asep, ini Mbok Sri” kata Ayah Lauren,menunjuk kami satu-satu
Lauren hanya
terdiam,tatapannya memang menunjukan bahwa dia tidak mengenal kami. Kami
seperti orang asing baginya.
“Dok, apa anak saya
ini hilang ingatan akibat kecelakaan itu? Tanya Ayah Lauren ke Dokter
“Kemungkinan ia, tapi
kita akan melakukan CT Scan terlebih dahulu supaya lebih jelasnya, sebaiknya
Lauren saat ini jangan dipaksa dulu mengingat yang berat-berat terutama tentang
kecelaaan itu”
“Ia Dokter”
Aku, Mang Asep, dan
Mbok Sri keluar dari ruangan Lauren dengan wajah sedih. Kak Rio yang sedari
tadi menunggu diluar memandangku heran.
“Va, kamu kenapa?
bukannya Lauren sudah sadar”
Aku langsung menangis
menutup wajahku dengan tanganku. Kak Rio makin heran.
“Mbak Lauren hilang
ingatan, Mas Rio” jawab Mang Asep
“Astaga, berarti
Lauren gak bisa ngingat kita semua?”
Aku mengangguk
mengiyakan ucapakan Kak Rio.
“Va, udah jangan
nangis lagi, percayalah Lauren akan dapatkan kembali ingatannya, Lauren pasti
bakalan ingat sama kamu,sama kita semua” Kak Rio lagi-lagi menenangkanku tapi
kali ini beda, disandarkannya kepalaku dibahunya sambil menepuk bahunya. Aku
terhanyut dalam pundak Kak Rio yang kokoh, rasanya semua airmataku membasahi
jaket parkanya. Aku tak peduli siapa suruh dia menarik kepalaku dia bahunya.
Aku hanya memikirkan Lauren. Kenapa semua ini bisa terjadi padamu? Bagaimana
bisa Lauren melupakan aku? kita sahabatan dari kecil kini dia akan menganggapku
orang asing.
Ditembak Kak Rio
Lauren mengajakku keluar malam ini.
Seperti biasa jika mengajak aku keluar malam pasti ia akan curhat mengenai
hubungannya dengan Kak Gilang. Aku selalu menjadi pendengar yang setia
untuknya. Aku penasaran kali ini masalahnya apa lagi. Apakah Kak Gilang yang
masih menunda-nunda untuk wisuda? Atau Lauren yang mulai bosan? Pukul 19.00
kami janjian bertemu di Cafe favorit kami, Warm and Cozy Cafe. Sesuai namanya
Cafe ini nyaman sekali bisa bikin betah. Designnya yang instagramable menjadi
daya tarik para selebgram dan anak muda untuk nongkrong di cafe ini tentunya
untuk cekrek-cekrek manja mengisi feed instagram. Makanan dan minumannya juga
tidak kalah enak, tidak hanya enak tapi ringan dikantong. Makanya, café ini milenial
banget kalau kata orang.
“Va. Loe pakaian yang
cantik ya”
“Gue selalu baju yang
cantik kali ya, Ren. Kecantikan gue tetap nambah meski pake karung”
“Pantasen ajah loe
gak punya cowok, selera fashion lo itu unik” ledek Lauren
Sesuai jam janjian
aku sudah sampai duluan. Seperti biasa Lauren masih asik berdandan dimeja
riasnya. Sering kali aku memarahi gadis itu setiap janjian akunya yang selalu
menunggu lama. Kutanya kenapa lama sekali katanya dia lagi make up dengan tema
no make up look. Aku sama sekali tidak
mengerti dengan no make up look, kelihatannya memang tidak seperti memakai make
up tapi lamanya bukan main. Butuh berjam-jam untuk no make up look yang simple.
“Ren, buruan ahh
capek nih gue nungguin loe” gerutuku lewat telpon
“ Udah loe santai ajah
dulu, rileksin tuh badan loe yang kaku-kaku,gue udah jalan nih”
Katanya sudah dijalan
tapi sedari tadi tidak ada tanda-tanda kehadiran Lauren. Kusambungkan wifi cafe
ke handphoneku untuk membunuh waktu menunggu ini. Banyak notifikasi dari sosmedku masuk ke
layar HPku. Tak ku cek satu persatu, aku fokus membaca lanjutan cerita dari
webtoon yang kubaca sebelum datang kesini.
“Mbak, ini Caramel
Macchiatonya” kata seorang waiter membawakan pesananku.
“ Ia makasih mas”
jawabku singkat tak menoleh sedikitpun dari layar handphoneku
Ku minum Caramel
macciatoku, rasanya sangat pas bikin urat-uratku rileks. Aku sudah menyiapakan
kata-kata manis untuk Lauren yang telah membuatku menunggu 30 menit lamanya.
Kulihat ada sebuah tissue di samping minumanku,kuambil tisu itu kulapkan di
bibirku. Aku terkejut melihat tulisan tangan dibaliknya. “mau jadi pacarku?” ku
nyernyitkan keningku sambil tersenyum kecil
“Kuno banget sih ni
orang, masih ada orang kayak gini ya” pikirku dalam hati
Tak kupedulikan
tulisan dibalik tisu itu. Aku yakin ini hanya iseng-iseng. Aku benar-benar
tidak tertarik untuk tahu siapa orang jahil yang telah mengirim ini padaku.
Pikiranku hanya tertuju pada Lauren, kenapa bisa dia lama sekali. Sebuah
homeband music di cafe ini membawakan sebuah lagu untuk menghibur para
pengunjung. Lagunya Ariana Grande yang one last time terdengar merdu
ditelingaku, tak kusadari kepalaku bergoyang mengikuti alunan lagu. Kudengar
seseorang memanggilku dari belakang. Aku berbalik ke sumber suara yang
memanggilku.
“Kak Rio?” kataku
menebak. Aku memang tahu itu Kak Rio, aku hanya tidak menyangka akan bertemu
dengannya disini setelah 2 tahun lalu
yang lalu.
“Hai, Va” sapa Kak
Rio langsung mengambil kursi didepannku padahal tak kusuruh duduk
“Kak Rio ngapain
disini?” aku tahu itu pertanyaan yang tidak cocok untuk orang yang sudah 2
tahun tidak bertemu
“Yahhh,nongkrong
ajah. Kan anak muda. Eh kamu sendirian ajah”
“Lagi nungguin Lauren
Kak”
“Oh gitu ya, gimana
Lauren sekarang ? ingatannya udah pulih?
Aku menggeleng. Tidak
mungkin aku katakan bahwa Lauren sekarang sudah jadi dukun yang bisa melihat
orang akan meninggal setelah mengalami di Desa Citatah 2 tahun lalu. Kak Rio
melihat tisu disamping minumanku. Aku yakin dia membaca tulisan di tisu itu”
“Itu apa?” katanya
sambil menunjuk tisu disampng minumanku
“Oh ini, aku gak
ngerti juga. Tadi waktu mas waiter bawain pesananku eh tiba-tiba ada tisu yang
ditulisan ngaconya. Gak aku gubris. Palingan juga iseng. Jadul bangetkan, Kak?”
Aku tertawa sendiri sementara Kak Rio terlihat serius
“Itu dari aku”
Tawaku langsung
hilang dari wajahku berubah menjadi serius. Langsung ku tatap wajah Kak Rio.
Dia benar-benar serius.
“Ini beneran Kak”
kataku tak percaya
“Ia beneran, kamu mau
jadi pacarku?”
Aku
tidak bisa berkata-kata. Perjumpaan macam apa ini. Ini semua terlalu tiba-tiba.
Sudah 2 tahun aku tidak bertemu dengan Kak Rio tiba-tiba dia muncul dihadapanku
dan menyatakan perasaanya padaku. Ku
akui Kak Rio orang yang baik, aku sempat kagum padanya saat dirumah sakit 2
tahun lalu.
“Gue lagi ditembak
beneran nih sama Kak Rio?” tanyaku dalam hati
“Jadi gini Va, Kak
Rio itu udah lama suka sama kamu, sejak 2 tahun lalu lebih tepatnya sih mulainya
saat di Desa Citatah. Aku tahu kamu kaget dan syok banget pas aku nembak
barusan, ini semua udah direncanaan sama Lauren dan aku”.
Aku bertambah kaget
bercampur tak percaya ini semua sudah direncanakan oleh Kak Rio dengan Lauren.
Jadi, Lauren mengajakku bertemu di sini buat menjalankan misinya. Rencana
mereka sangat apik. Tak dapat berkata-kata aku dibuatnya.
“Sejak 2 tahun lalu
sampe sekarang Kak Rio selalu nge perhatiin kamu, Va”
“Sampe sekarang?
Tanyaku tak percaya
“Aku selalu nanyain
kabar kamu sama Lauren. Aku minta Lauren untuk kasi tahu semua informasi
tentang kamu. Aku nanyain kamu terus”
“Kenapa gak ngomong
langsung ke aku ajah Kak” Nada bicara sedikit meninggi aku sedikit kesal.
“Karena kamu pernah
bilang gak mau pacaran sama pengangguran, gak mau pacaran sama cowok yang
gaya-gayaan doang tapi suka ngabisin duit orang tua”
Aku
langsung mengingat kembali perkataanku dulu. Aku tak menyangka Kak Rio
mendengar ucapanku dulu sewaktu eskpedisi Alam di Desa Citatah. Lauren pernah
bertanya padaku kenapa aku menolak Rizal. Aku menjawab bahwa Rizal masih
pengangguran, bukan karena aku matre tapi aku tidak suka dengan laki-laki-laki
yang mengambur-hamburkan duit orang tuanya untuk gaya-gayaan saja.
“Aku mau nembak kamu
disaat aku udah gak jadi pengangguran lagi. Aku sekarang udah bisa hasilin duit
sendiri Va, jadi aku merasa sudah pantas untuk nyatain perasaanku ke kamu”
Aku
sangat tersentuh mendengar kata-kata Kak Rio. Laki-laki didepanku ini sangat
dewasa. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan tatapanku darinya. Aku bisa merasakan
jantungku dag dig dug serr tak karuan aku bahkan sampai salah tingkah. Entahlah
wajahku sekarang seperti apa mungkin akan gosong sebentar lagi lantaran
panasnya.
“Jadi gimana Va,kamu
mau gak jadi pacarku?”
Jauh dilubuk hatiku
terdalam aku mengatakan ia namun aku masih malu untuk bilang. Aku tidak punya
alasan untuk tidak menerima laki-laki baik didepan mataku ini. Semua yang ada
pada dirinya adalah apa yang aku harapkan dari seorang pria. Handphone ku
bergetar kulihat ada chat masuk dari Lauren
“Udah terima ajah
deh, Kak Rio udah tahu loe suka sama dia. Gue udah nyeritain semua ke dia kalau
loe pernah naksir dia”
Aku malu sekali
membaca chat dari Lauren. Jadi Lauren ini mata-matanya Kak Rio. Dia
menceritakan semua curhatanku pada Kak Rio. Pastilah Kak Rio merasa percaya
diri sekali menembakku malam ini karena ia sudah tahu aku pernah naksir dia dan
malam ini dia menanyakan apa cinta itu masih ada. Aku hanya tertawa malu dihadapan
Kak Rio sambil menutup wajahku. Kurasa ia tahu apa jawabanku.
To be continued........
Komentar
Posting Komentar