#fiksinely
Lauren Hilang
Lauren datang mencariku di perpustakaan.
Langkah sepatunya sangat cepat sehingga menjadikan bising ruang perpustakaan
yang tenang. Lauren menarik lenganku untuk keluar dari perpustakaan itu segera.
Buku yang tadi kupegang langsung kusimpan diatas meja. Ku ikuti Lauren menarik
lenganku.
“Va, gue mimpi lagi
semalam”
“Serius loe? yang
bakalan meninggalan siapa sekarang Ren?”
Dengan wajah serius
ku pelototi Lauren. Aku berharap kami bisa menolong orang itu.
“Kak Rio” jawab
Lauren datar dengan wajah lemas.
Aku terkejut, sangat
terkejut. Lututku langsung lemas. Aku tak mampu berdiri tegak, pandanganku
seketika blur. Lauren yang melihatku tak bisa berbuat apa-apa aku tahu apa yang
dirasakannya, sebelum memberitahuku dia juga pasti mengalami hal yang serupa
dan lebih tekanan batin lagi harus memberitahukannya padaku. Aku tak habis
pikir kenapa orang yang meninggal selanjutnya itu adalah Kak Rio, pacarku. Aku
langsung mengambil handphone menelpon Kak Rio, namun Kak Rio tidak
mengangkatnya. Kutelpon lagi berharap ia akan mengangkatnya. Hal yang sama, Kak
Rio tidak mengangkat telponnya kupikir ia sedang sibuk, pekerjaannya
akhir-akhir ini sangat banyak. Kuputuskan untuk pergi ke Kantor Kak Rio namun
Lauren menarik lenganku. Ia melarangku pergi.
“Loe gak usah ke
Kantor Kak Rio”
“Kenapa?gue harus
kasi tahu dia.gue harus”
“Dia gak ada di
Kantornya”
Aku menatap Lauren
lebih dalam lagi. Aku penasaran maksud perkataannya.
“Maksud loe apa?”loe
tahu dari mana kalo dia gak dikantor?”
“Kak Rio udah
meninggal pagi ini”
Aku langsung menarik
lenganku dari Lauren. Aku memberontak padanya.
“Loe udah tahu Kak
Rio bakalan meninggal?dan mimpi loe yang semalam itu ngasih tahu loe penyebab
kematian Kak Rio?”
Lauren menunduk
pasrah, ia tak berkata apa-apa. Aku tak paham mengapa ia menyembunyikan semua
ini padaku. Aku sahabatnya, aku seharusnya orang yang pertama yang ia kasi tahu
siapa orang yang akan meninggal apalagi orang tersebut adalah orang yang sangat
kucintai. Selalunya aku yang pertama, tapi kenapa baru kali ini ia tak
memberitahuku, apakah karena tak ingin aku sedih, terluka. Ah shit.
“Jahat banget sih loe
sama gue Ren,harusnya loe kasi tahu gue,biar gue bisa nolongin Kak Rio”
“Gue jahat gimana Va,
kita gak bisa membatalkan atau menolong orang yang akan meninggal. Kalau pun
kita nolongin dia, dia emang selamat tapi dia bakalan meninggal dengan penyebab
yang lain lagi”
Aku terdiam yang bisa
ku lakukan hanya menangis
“Kak Rio meninggal
karena bunuh diri Va, dia stress karena dipecat dari Kantornya dan orang
tuannya mau jodohin dia sama perempuan lain”
“Hal sepenting itu
loe gak kasi tahu gue? Loe pikir gue apa, Ren? Apa Kak Rio hanya cerita ke loe
gak ke gue?”
Lagi-lagi Lauren
diam. Diamnya telah menjawab pertanyaanku.
Aku
langsung pergi tanpa mempedulikan Lauren. Lauren pun demikian ia tak menarik
atau memanggilku. Aku kecewa sama Lauren, sangat kecewa. Sebegitu kejamnya dia
hingga tak memberitahuku soal kematian Kak Rio, aku ini pacarnya Kak Rio. Aku
menuju rumah Kak Rio, aku ingin melihat jenazah Kak Rio. Sesampainya disana aku
diusir oleh orang tua Kak Rio. Hubungan kami memang tidak direstui oleh orang
tua Kak Rio sejak kami pacaran. Ibunya Kak Rio telah mencarikan perempuan yang
ia inginkan untuk Kak Rio. Alasan Ibu Kak Rio tidak menyukaiku karena katanya
aku membuat Kak Rio jadi durhaka kepada kedua orang tua, Kak Rio tidak mau lagi
mengikuti kata-kata orang tuanya, katanya aku telah memeletnya. Aku sudah
bilang sama Kak Rio waktu itu untuk mundur, aku tak ingin menjadi penyebab
kerenggaangan hubungan orang tua dan anak itu. Kak Rio justru memegang
tanganku, ia lebih memilihku dibandingkan orang tuanya. Sejak saat itu Kak Rio
diusir oleh orang tuanya dari rumah.
“Pergi kamu dari sini
perempuan jahat, aku tak sudi melihatmu melihat mayat anakku, pergi….pergi”
Aku berlutut dikaki
Ibunya Kak Rio sambil menangis.
“Aku minta maaf, Bu.
Aku hanya ingin melihat Kak Rio untuk terakhir kalinya”
“Aku tak sudi,
pergi…pergi kamu…pergi”
Ibu
Kak Rio mendorongku keluar. Hingga tatapan semua orang tertuju padaku. Aku
tidak peduli dengan tatapan dan perkataan orang-orang, aku hanya ingin melihat
Kak Rio untuk terakhir kalinya. Tangan lembut menyentuh lenganku, itu adalah
tangan Lauren. Lauren memapahku berdiri.
“Udah Va, kita pulang
dulu ajah dulu,biar semuanya tenang”
Aku mengikuti Lauren
membawaku ke mobilku. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Lauren. Lauren
tak banyak mengelus rambut dan pundakku.
“Kak Rio,ngelarang
gue buat kasi tahu loe, Va”
Tangisku langsung
berhenti, kulepaskan pelukanku dari Lauren.
“maksud loe?”
“Udah kasi tahu Kak
Rio mengenai kondisi gue yang bisa ngelihat orang yang meninggal, gue juga udah
kasi tahu ke Kak Rio kalo dia bakalan meninggaal. Dia juga curhat masalah
pemecatannya itu tapi dia ngelarang gue buat kasi tahu loe. Kak Rio sayang
banget sama loe, Va dia gak mau buat loe sedih,kepikiran. Dia mau loe bahagia”
“Soal bunuh diri
kenapa loe gak kasi tahu ke gue, kitakan bisa nyelamatin Kak Rio”
Lauren mengatur napas
dan nada suaranya. Diaturnya nada ucapanya agar tidak menyakitkanku mungkin.
“Va, lagi-lagi maaf
gue ngerasihain ini dari loe, gue minta maaf banget harus nutupin hal penting
ini dari loe”
“udah loe cerita
ajah, lagian gue gak bisa ngapa-ngapain lagi”
Lauren menundukkan
kepalanya sejenak. Aku tahu dia sangat merasa bersalah.
“Kak Rio sakit Va,
dia ngidap kanker hati. Dia stress dan mutusin untuk bunuh diri.”
Air
mataku langsung tumpah, Lauren langsung menarik dan memelukku. Kali ini aku
menangis dalam pelukannya,air mata dan ingusku tak kupedulikan basah dan
mengotori baju Lauren. Hanya Lauren tempatku menangis sejadi-jadinya tanpa
peduli malu. Kepergian Kak Rio benar-benar mengisahkan duka untukku. Kak Rio
yang ceria yang selalu menghiburku itu tak kusangka menyembunyikan sakitnya dan
masalahnya dariku. Aku merasa menjadi pacar yang tidak peka,aku bukanlah pacar
yang baik untuk Kak Rio. Aku mengerti kenapa orang tua Kak Rio sangat tidak
merestui hubungan kami. Aku pantas mendapatkan semua ini.
Seminggu
setelah kematian Kak Rio, hari-hariku lumpuh. Aku tak kekampus, tak keluar
rumah dan tidak bergairah untuk ngapa-ngapain. Lauren berkali-kali datang ke
rumahku dan membujukku untuk semangat dan bangkit lagi tapi tak kuhiraukan.
Hari ini Lauren tak datang ke rumahku,aku heran aku menanyai Ibu apakah Lauren
menelpon atau tidak.
“Bu, Lauren tadi
nelpon gak?
“Gak tuh”
“Kenapa ya dia gak
kerumah? Biasanya dia datang”
“Dia udah capek
ngingatin dan bujuk kamu kali,habisnya kamu tuh ngurung diri ajah terus dikamar.
Kalo kamu kayak gitu bukan cuma Ibu yang kamu buat sedih tapi juga sahabat kamu
tuh, Lauren”
Aku
terdiam, perkataan Ibuku ada benarnya juga. Tidak ada gunanya aku berdiam diri
dikamar,melimpahkan semua kesalahan padaku. Kak Rio sudah tenang di alam sana.
Aku tida bisa menghentikan hidup dan kesehariaanku, aku tidak bisa terus
terbelenggu dalam kesedihan. Aku harus bangkit, aku tidak mau membuat orang
disekitarku sedih dan ikut murung karena dukaku Ini.
Kuambil
handphoneku di meja, ku telpon Lauren. Aku ingin bertemu dengannya. Ingin
meminta maaf atas sikapku selama ini dan bertemu dengannya.
“Nomor yang anda
hubungi sedang tidak aktif….”
Ku coba lagi menelpon
Lauren namun tetap sama respon dari operator yang menandakan bahwa handphonenya
mati. Tanpa pikir panjang aku langsung melaju kerumahnya. Mbok Sri bilang
Lauren tak ada dirumah. Aku coba berpikir dan menebak kemana perginya Lauren.
Mungkin dia sedang jalan sama Kak Gilang, ku coba menelpon Kak Gilang mungkin
saja saat ini Lauren sedang mengadu atau menangis di hadapan Kak Gilang karena
sifat cuekku seminggu ini.
“Halo, Kak Gilang,
Lauren sama Kakak gak saat ini” tanyaku to the point
“Gak, Lauren gak sama
aku, justru aku mau nanya sama kamu Va, Lauren udah 2 hari gak kekampus”
Sontak aku kaget,
kemana Lauren? Dirumah tidak ada. Dia menghilang kemana. Setelah mengetahui
bahwa Kak Gilang tidak mengetahui keberadaan Lauren, ku tutup telpon tanpa
berbasa basi. Aku tahu Kak Gilang masih ingin berbicara denganku,mungkin ia
ingin juga tahu keadaan Lauren tapi saat ini kepalaku hanya di isi oleh Lauren.
Aku tak mampu berkata panjang dengan Kak Gilang. Ku panngil Mbok Sri yang baru
saja masuk ke dapur.
“Mbok, Lauren gak
bilang mau ke mana gitu?”
Mbok Sri berpikir
memutar matanya keatas berharap mengingat kata-kata yang diucapkan Lauren
hendak kemana
“Gak tuh, Mbak Lauren
perginya naik mobil. Bawa ransel. Kayak mau travelling gitu”
“Ya udah Mbok,
Makasih ya”
Aku masih belum
mengerti kenapa Lauren harus bepergian sendiri. Kemana-mana dia pasti
mengajakku. Aku mulai gelisah. Pikiranku buntu aku tidak bisa menebak kemana
perginya Lauren. Ku putuskan menelpon Kak Gilang lagi
“Halo Kak, Lauren
udah 2 hari gak pulang kerumah,Mbok Sri bilang Lauren pergi bawa ransel gitu,
aduhh aku khawatir banget nih”
“Kamu tenang yaa,
kita cari Lauren sama-sama.Kamu dimana sekarang?”
Aku memberitahu Kak
Gilang bahwa aku dirumah Lauren. Dia menyuruhku untuk tetap disitu. 10 menit
kemudian Kak Gilang muncul dengan motor matic birunya. Langsung ku samperi kak
Gilang yang baru saja mematikan mesin motornya.
“Kak, sumpah aku
khawatir banget, gak biasanya Lauren pergi seperti ini tanpa memberitahu aku.
Kalau pun dia akan pergi dia pasti ngajak aku kak”
Kak Gilang
menenangkanku. Dia menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu
“Kak Gilang beneran
gak ngerti kenapa Lauren menghilang. Kita juga sama sekali gak ada masalah”
“Kalau kak Gilang gak
berantem sama Lauren, terus Lauren kenapa tiba-tiba menghilang?”
Kak Gilang terdiam.Tanpa
kusadari kepalaku kusandarkan ke bahu Kak Gilang, Kak Gilang hanya menepuk
pundakku.
“Kak aku takut Lauren
kenapa-napa, bagaimana kalau ada hal buruk menimpa dia?”
Kak Gilang
langsung memegang bahuku dengan kedua
tangannya, matanya menatapku serius.
“kamu jangan ngomong
kayak gitu, Lauren gak bakal kenapa-napa kok, percyalah”
Langsung
kupeluk Kak Gilang. Aku tak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini. Mungkin
hal bodoh yang dilakukan oleh seorang wanita yang baru saja ditinggal
kekasihnya, mungkinkah ini efek karena aku kesepian, aku merindukan sosok Kak
Rio. Dan Kak Gilang tiba-tiba terlihat seperti Kak Rio. Kak Gilang sedikit
kaget ketika kupeluk. Ada gerakan mengelak dari tubuhnya namun ia tak sanggup
untuk melepaskan pelukanku karena aku terlalu tiba-tiba. Kurasakan aroma parfum
Kak gilang sangat menentramkan pikiranku. Aku tahu ini adalah aroma parfum yang
dipilih oleh Lauren. Pelukanku makin erat. Kali ini aku benar-benar menikmati
pelukan itu. Aku suka sama Kak Gilang, singkatnya begitu. Jantung Kak Gilang
berdegup kencang, aku tahu dia sangat deg deg degan dan tidak tahu harus
berbuat apa. Kudengar langkah kaki dari ruang tamu, itu pasti Mbok Sri dan ia
pasti melihatku dari balik jendela memeluk Kak Gilang tapi tak nongol ke teras.
Untuk pertama kalinya aku ingin memiliki apa yang dimiliki Lauren yaitu Kak Gilang.
Kak Gilang cepat-cepat melepas
tanganku dari tubuhnya. Aku tahu dia sudah tidak nyaman atau dia tahu kalau aku
tak berhenti memeluknya orang yang melihat akan salah paham terutama Lauren.
“Va, maaf udah ya”
“Kak, Aku suka sama
Kakak” kataku spontan mengutarakan isi hatiku
Kak Gilang lagi-lagi
terdiam. Pasti ia tidak percaya bahwa aku akan tiba-tiba mengutarakan isi
hatiku padanya disaat yang tidak tepat ini atau dia tidak percaya kalau aku,
sahabat Lauren, akan menikam Lauren dari belakang seperti ini.
“Aku beneran suka
sama Kak Gilang”
“Va, aku tahu kamu
lagi stress banget, Kamu masih rindu sama Rio & kamu juga stress karena
Lauren menghilang kan?
“Gak, aku beneran
suka sama Kakak. Aku merasa Lauren terlalu beruntung mendapatkan semuanya,
termasuk cinta dari Kak Gilang”
“Maaf Va, aku akan
menganggap kejadian barusan tidak pernah terjadi. Aku sangat mencintai dan
menyayangi Lauren”.
Aku
marah mendengar ucapakan Kak Gilang barusan. Itu sungguh meukai harga driku. Aku
berpikir untuk menceritakan masalah mimpi Lauren ke Kak Gilang. Agar ia ilfeel
sama Lauren. Akhirnya aku bertekad aku harus memberitahu Kak Gilang kebenaran
yang selama ini aku dan Lauren tutupi Aku ingin Kak Gilang mengangap Lauren itu
menakutkan dan mengerikan. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku bisa
menikam Lauren seperti ini tapi Lauren tidak seharusnya mendapatkan segalanya
dalam hidup ini.
“ehmm… Kak sebenarnya
Lauren tuh sebenarnya punya mimpi aneh Kak, dia itu bisa melihat orang yang
akan meninggal di mimpinya. Seorang nenek tua datang di mimpi Lauren dan
memberitahukan orang disekitar Lauren akan meninggal dan penyebab
kematiaannya”.
Ku hentikan kalimatku
sejenak,ku cek ekspresi Kak Gilang rupanya dia tenang-tenang saja dia
mendengarkan ceritaku tak ada tanda-tanda dia ketakutan. Kulanjutkan ceritaku.
Sepertinya harus kubumbui ceritaku ini
“Semua orang
disekitar Lauren akan meninggal Kak, contohnya Mang Asep mungkin sebentar lagi
Aku atau Kakak yang bakal meninggal”
“Kok bisa Lauren
mimpi seperti itu? Itu pasti berat buat dia. Dia pasti ketakutan banget. Aku
seharusnya berada disisinya. Aku seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman
untuknya untuk bercerita”
Tak
kusangka Kak Gilang akan berkata seperti itu. Kupikir dia akan menganggap
Lauren menakutkan dan gila tapi dia justru menyalahkan dirinya sendiri karena
tidak bisa menjadi teman curhat untuk Lauren. Tak kusangka Lauren sangat
beruntung memiliki seorang kekasih yang betul-betul mencintainya. Aku jadi semakin iri sama Lauren.
“Kak Gilang seharunya
takut dong, kita bisa ajah jadi korban Kak kalau dekat-dekat sama Lauren”
Kak
Gilang malah marah padaku. Dia menganggapku bukan sahabat yang baik. Aku telah
menusuk Lauren dari belakang. Aku tidak pantas menerima kebaikan dari Lauren
selama ini katanya seperti itu. Aku semakin bertambah emosi, kukepalkan
tanganku ingin rasanya kubunuh saja Lauren itu.
Sebuah mobil hitam
masuk ke area rumah Lauren. Perhatian Kak Gilang langsung teralih ke mobil
tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat Lauren turun dari mobil tersebut.
Kak Gilang langsung memeluk Lauren yang baru turun dari mobil. Lauren membalas
pelukan itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat Lauren kembali. Dalam hati
aku berharap dia seharusnya tidak kembali.
Memori Memanggil
Hari selasa aku dan Lauren tak ada
jadwal kuliah. Kuputuskan untuk kerumah Lauren.
Jika tak ada jadwal kuliah Lauren selalu mengajakku ke rumahnya hanya
sekedar mengobrol atau belajar make up bersama. Diperjalan kutelpon Lauren, ku
pastikan gadis gila itu sudah bangun sebelum ku acak-acak rambutnya.
“Ren, gue mo kesitu
yaah, gue udah dijalan nih”
“Biasanya juga loe
langsung main nerobos ajah dirumah gue,gak pake nelpon dulu. Tumben hari ini
loe nelpon dulu”
“Gue mo mastiin loe
udah bangun, biasanya hari selasa kan loe tidur ampe siang”
“enak ajah, gue
bukannya males tapi gue hanya nikmatin waktu libur. Udah ahh loe dateng ajah”
Lauren
menutup dulun telponnya. Diperjalan ku putar lagu Bruno Mars 24k magic. Lagu
ini menambah semangatku di pagi ini. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya
mulutku bersenandung sesekali ku goyangkan badanku mengikuti alunan lagu.
Rumahku dengan rumah Lauren jaraknya tidak jauh hanya membutuhkan waktu 5 menit
untuk sampai ke rumah Lauren. Sewaktu SD dulu rumahku cukup jauh dengan rumah
Lauren. Setelah Ayah meninggal, ku minta Ibu untuk menjual rumah dan membeli
rumah didekat rumah Lauren. Rumahku yang dulu sangat jauh dari sekolah dan
rumah Lauren. Sehingga butuh 20 sampe 30 menit perjalanan untuk Mang Asep dan
Lauren menjemputku. Selain itu, aku tidak memiliki banyak teman seusiaku di
komplek rumahku yang dulu.
“Ren…..ren….
kangen…..” teriakku masuk kedalam kamar Lauren sambil memeluk Lauren yang
menatap layar handphonenya
“apaan sih loe, kek
gak ketemu seminggu ajah”
“gue kangen mulu sama
loe tahu gak. Ihh loe bau pesing, loe ngompol ya?”
“enak ajah , sini loe
gue jitak pal aloe” Lauren tak terima ku bilangi bau. Dia menarikku dan
memukulku.
Pagi
yang sangat berisik selalu terdengar dari kamar Lauren jika aku datang. Aku
senang saja menjahili gadis gila itu. Terdengar dari dapur Mbok Sri memanggil
kami sarapan. Seperti biasa jika aku datang ke rumah Lauren, Mbok Sri selalu
menyiapkan kami sarapan. Jika aku tak datang, Mbok Sri tidak membuatkan Lauren
sarapan karena Lauren biasa menyiapkan sarapannya sendiri katanya biar Mbok Sri
betah tinggal dirumahnya.
“Masa sarapan ajah
mesti dibuatin” kata Lauren yang mandiri sejak kecil
“ Mbak Reva, ayo
sarapan” teriak Mbok Sri dari dapur
“Ia mbokkkk” jawabku
Ku timpuli Lauren
dengan bantal dan langsung berlari kedapur sebelum dia balas membanting lemari
atau alat berat kepadaku
“wihhh hari ini
sarapannya gak pake susu lagi ya?”
“Diminum ajah,
biasanya juga langsung ngerocos ajah”
Aku tidak mengerti
kenapa Mbok Sri tiba-tiba judes kepadaku. Mbok Sri yang super santun tiba-tiba
berbicara seakan akan menantangku.
“Mungkin saja Mbok
Sri sedang ingin lebih akrab denganku” pikirku
“Loe mah apa ajah
enak, makanan expired ajah loe makan” timpal Lauren yang muncul dari belakangku
Aku
hanya tersenyum tanpa membalas karena memang kenyataan sudah seperti itu dan
aku tidak sanggup untuk beradu lagi dengan Lauren aku sudah sangat lapar.
Semalam aku tak makan malam karena sibuk mengerjakan tugas dari dosen killer,
Pak Burhan. Aku adalah orang yang sangat jarang makan malam apalagi dirumah
hanya ada aku. Ibu sibuk mengurusi butiknya yang akan buka cabang lagi di
Makassar dan di Jakarta. Semenjak Ayah meninggal, Ibulah yang bekerja keras
membiayaiku. Sehingga Ibu seing sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan
mengurusi aku. Aku tak tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang, justru aku
mendapatkan kasih sayang dari Sahabatku, Lauren, Mang Asep yang seperti Ayahku
dan Mbok Sri. Aku mengerti Ibu bekerja
keras agar aku hidup dengan enak, sekolah tinggi dan mencapai cita-citaku. Ibu
selau pergi ke kantor setelah aku kesekolah, dijemput oleh Mang Asep dan
Lauren. Itulah sebabnya Ibu sangat senang aku berteman dengan Lauren karena aku
tidak jadi kesepian dirumah. Sepulang sekolah biasanya aku mampir kerumah
Lauren, malamnya Ibu datang menjemputku. Biasanya Lauren menemaniku bermain
dirumah dan akan pulang jika Ibu sudah pulang. Jika Mang Asep gajian kami
ditraktir makan Es roti dan bermain seharian ditaman.
“Piringnya langsung
dicuci ya” kata Mbok Sri menatapku tajam sambil berlalu dari meja makan
Tidak Biasanya Mbok
Sri menyuruhku mencuci piring bekas makanku. Ada apa dengan Mbok Sri hari ini.
Sepertinya dia membenciku. Ku senggol tangan Lauren yang sedang mengolesi
rotinya dengan selai anggur
“Mbok Sri kenapa sih?
Dia jutek banget sama gue ni hari?
“Masa sih, biasa aja
kali”
“dia tuh kek jengkel
banget am ague, terus pas makan tadi dia gak ngajak gue ngobrol biasanyakan dia
selalu nanyain sesuatu kek gue”
“ Va, kayaknya ingatan gue dikit-dikit balik
deh” kata Lauren membuka pembicaraan
Aku terkaget hingga
hampir kutelan bulat-bulat roti yang baru saja ku masukkan kedalam mulutku.
“Serius loe? Apa ajah
yang loe ingat? Tanyaku penasaraan
“Sedikit ajah sih
cuma ingatan waktu kita ekspedisi alam di Desa Citatah. Itupun hanya sebagian”
“Yang loe inget apa ajah?”
Aku makin penasaran.
Mungkin kah Lauren ingatannya akan akan kembali?
“Mmm… gue ingat
dikit-dikit yang kita lakukan di Desa Batu“
“Loe ingat gak waktu
loe jatuh dari tebing?”
Lauren
menggeleng. Lauren langsung berhenti membahas ingatannya yang mulai kembali.
Dia kembali fokus ke sarapannya. Aku benar-benar penasaran apa saja yang sudah di
ingat oleh Lauren.Namun, aku tidak mau bertanya lebih dalam lagi takutnya
Lauren akan memaksa mengingat dan membuatnya sakit. Kalaupun dia ingat pasti
aku diberitahu.
Sudah
sebulan semenjak Lauren bilang ingatannya sudah kembali sebagian. Namun, saat ini
dia tidak cerita ke aku apa saja yang dia ingat lagi. Lauren menghampiriku di
kelas. Wajahnya sangat gembira.
“ Va, gue udah inget
semua memori gue yang hilang”
Aku terkejut. Apakah aku harus bahagia terlebih dulu atau
bertanya penasaran.
“Serius loe?” tanyaku
memastikan
“Gue serius, Va. Tadi
pagi gue bangun tiba-tiba aja ingatan gue kembali.
“Beneren semua
ingatan loe kembali? Apa ajah yang loe ingat?”
“Gue ingat masa kecil
kita, gue ingat semuanya tapi gue heran kok gue gak ingat kejadian waktu gue jatuh
dari tebing ya?”
Aku juga heran
mengapa Lauren tidak mengingat kejadian dia jatuh dari tebing.
“Mungkin itu
traumatis banget buat loe, jadi loe gak ingat”
“Mungkin ajah sih,
semakin gue berpikir gue semakin gak ngerti. Mungkin gak ya penyebab gue mimpi
didatangin nenek tua itu karena gue datang ke tempat keramat terus hantu nenek
itu yang dorong gue”
“Ah sembarangan ajah
loe, gak mungkin lah” balasku meremehkan candaan receh Lauren
“Ato mungkin gue
didorong seseorang?menurut loe?
“Masa sih, loe inget kalo
loe lihat seseorang ngedorong loe?” tanyaku semakin penasaran
“Gue gak ingat. Gue
males ngingat bagian yang itu yang penting kenangan gue ama loe udah kembali”
Lauren
melingkarkan lengannya ke leherku, bibir kecilnya menciumi pipiku. Aku senang
Lauren ingatannya telah pulih tapi aku masih heran kenapa kejadian dia jatuh
dari tebing tidak diingat oleh Lauren. Apapun itu aku tetap bersyukur. Sangat
bersyukur.
To be continued.............
Komentar
Posting Komentar