Mimpi :Misteri Mimpi Lauren (Part 4)

 #fiksinely

Lauren Hilang

Lauren datang mencariku di perpustakaan. Langkah sepatunya sangat cepat sehingga menjadikan bising ruang perpustakaan yang tenang. Lauren menarik lenganku untuk keluar dari perpustakaan itu segera. Buku yang tadi kupegang langsung kusimpan diatas meja. Ku ikuti Lauren menarik lenganku.

“Va, gue mimpi lagi semalam”

“Serius loe? yang bakalan meninggalan siapa sekarang Ren?”

Dengan wajah serius ku pelototi Lauren. Aku berharap kami bisa menolong orang itu.

“Kak Rio” jawab Lauren datar dengan wajah lemas.

Aku terkejut, sangat terkejut. Lututku langsung lemas. Aku tak mampu berdiri tegak, pandanganku seketika blur. Lauren yang melihatku tak bisa berbuat apa-apa aku tahu apa yang dirasakannya, sebelum memberitahuku dia juga pasti mengalami hal yang serupa dan lebih tekanan batin lagi harus memberitahukannya padaku. Aku tak habis pikir kenapa orang yang meninggal selanjutnya itu adalah Kak Rio, pacarku. Aku langsung mengambil handphone menelpon Kak Rio, namun Kak Rio tidak mengangkatnya. Kutelpon lagi berharap ia akan mengangkatnya. Hal yang sama, Kak Rio tidak mengangkat telponnya kupikir ia sedang sibuk, pekerjaannya akhir-akhir ini sangat banyak. Kuputuskan untuk pergi ke Kantor Kak Rio namun Lauren menarik lenganku. Ia melarangku pergi.

“Loe gak usah ke Kantor Kak Rio”

“Kenapa?gue harus kasi tahu dia.gue harus”

“Dia gak ada di Kantornya”

Aku menatap Lauren lebih dalam lagi. Aku penasaran maksud perkataannya.

“Maksud loe apa?”loe tahu dari mana kalo dia gak dikantor?”

“Kak Rio udah meninggal pagi ini”

Aku langsung menarik lenganku dari Lauren. Aku memberontak padanya.

“Loe udah tahu Kak Rio bakalan meninggal?dan mimpi loe yang semalam itu ngasih tahu loe penyebab kematian Kak Rio?”

Lauren menunduk pasrah, ia tak berkata apa-apa. Aku tak paham mengapa ia menyembunyikan semua ini padaku. Aku sahabatnya, aku seharusnya orang yang pertama yang ia kasi tahu siapa orang yang akan meninggal apalagi orang tersebut adalah orang yang sangat kucintai. Selalunya aku yang pertama, tapi kenapa baru kali ini ia tak memberitahuku, apakah karena tak ingin aku sedih, terluka. Ah shit.

“Jahat banget sih loe sama gue Ren,harusnya loe kasi tahu gue,biar gue bisa nolongin Kak Rio”

“Gue jahat gimana Va, kita gak bisa membatalkan atau menolong orang yang akan meninggal. Kalau pun kita nolongin dia, dia emang selamat tapi dia bakalan meninggal dengan penyebab yang lain lagi”

Aku terdiam yang bisa ku lakukan hanya menangis

“Kak Rio meninggal karena bunuh diri Va, dia stress karena dipecat dari Kantornya dan orang tuannya mau jodohin dia sama perempuan lain”

“Hal sepenting itu loe gak kasi tahu gue? Loe pikir gue apa, Ren? Apa Kak Rio hanya cerita ke loe gak ke gue?”

Lagi-lagi Lauren diam. Diamnya telah menjawab pertanyaanku.

Aku langsung pergi tanpa mempedulikan Lauren. Lauren pun demikian ia tak menarik atau memanggilku. Aku kecewa sama Lauren, sangat kecewa. Sebegitu kejamnya dia hingga tak memberitahuku soal kematian Kak Rio, aku ini pacarnya Kak Rio. Aku menuju rumah Kak Rio, aku ingin melihat jenazah Kak Rio. Sesampainya disana aku diusir oleh orang tua Kak Rio. Hubungan kami memang tidak direstui oleh orang tua Kak Rio sejak kami pacaran. Ibunya Kak Rio telah mencarikan perempuan yang ia inginkan untuk Kak Rio. Alasan Ibu Kak Rio tidak menyukaiku karena katanya aku membuat Kak Rio jadi durhaka kepada kedua orang tua, Kak Rio tidak mau lagi mengikuti kata-kata orang tuanya, katanya aku telah memeletnya. Aku sudah bilang sama Kak Rio waktu itu untuk mundur, aku tak ingin menjadi penyebab kerenggaangan hubungan orang tua dan anak itu. Kak Rio justru memegang tanganku, ia lebih memilihku dibandingkan orang tuanya. Sejak saat itu Kak Rio diusir oleh orang tuanya dari rumah.

“Pergi kamu dari sini perempuan jahat, aku tak sudi melihatmu melihat mayat anakku, pergi….pergi”

Aku berlutut dikaki Ibunya Kak Rio sambil menangis.

“Aku minta maaf, Bu. Aku hanya ingin melihat Kak Rio untuk terakhir kalinya”

“Aku tak sudi, pergi…pergi kamu…pergi”

Ibu Kak Rio mendorongku keluar. Hingga tatapan semua orang tertuju padaku. Aku tidak peduli dengan tatapan dan perkataan orang-orang, aku hanya ingin melihat Kak Rio untuk terakhir kalinya. Tangan lembut menyentuh lenganku, itu adalah tangan Lauren. Lauren memapahku berdiri.

“Udah Va, kita pulang dulu ajah dulu,biar semuanya tenang”

Aku mengikuti Lauren membawaku ke mobilku. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Lauren. Lauren tak banyak mengelus rambut dan pundakku.

“Kak Rio,ngelarang gue buat kasi tahu loe, Va”

Tangisku langsung berhenti, kulepaskan pelukanku dari Lauren.

“maksud loe?”

“Udah kasi tahu Kak Rio mengenai kondisi gue yang bisa ngelihat orang yang meninggal, gue juga udah kasi tahu ke Kak Rio kalo dia bakalan meninggaal. Dia juga curhat masalah pemecatannya itu tapi dia ngelarang gue buat kasi tahu loe. Kak Rio sayang banget sama loe, Va dia gak mau buat loe sedih,kepikiran. Dia mau loe bahagia”

“Soal bunuh diri kenapa loe gak kasi tahu ke gue, kitakan bisa nyelamatin Kak Rio”

Lauren mengatur napas dan nada suaranya. Diaturnya nada ucapanya agar tidak menyakitkanku mungkin.

“Va, lagi-lagi maaf gue ngerasihain ini dari loe, gue minta maaf banget harus nutupin hal penting ini dari loe”

“udah loe cerita ajah, lagian gue gak bisa ngapa-ngapain lagi”

Lauren menundukkan kepalanya sejenak. Aku tahu dia sangat merasa bersalah.

“Kak Rio sakit Va, dia ngidap kanker hati. Dia stress dan mutusin untuk bunuh diri.”

Air mataku langsung tumpah, Lauren langsung menarik dan memelukku. Kali ini aku menangis dalam pelukannya,air mata dan ingusku tak kupedulikan basah dan mengotori baju Lauren. Hanya Lauren tempatku menangis sejadi-jadinya tanpa peduli malu. Kepergian Kak Rio benar-benar mengisahkan duka untukku. Kak Rio yang ceria yang selalu menghiburku itu tak kusangka menyembunyikan sakitnya dan masalahnya dariku. Aku merasa menjadi pacar yang tidak peka,aku bukanlah pacar yang baik untuk Kak Rio. Aku mengerti kenapa orang tua Kak Rio sangat tidak merestui hubungan kami. Aku pantas mendapatkan semua ini.

Seminggu setelah kematian Kak Rio, hari-hariku lumpuh. Aku tak kekampus, tak keluar rumah dan tidak bergairah untuk ngapa-ngapain. Lauren berkali-kali datang ke rumahku dan membujukku untuk semangat dan bangkit lagi tapi tak kuhiraukan. Hari ini Lauren tak datang ke rumahku,aku heran aku menanyai Ibu apakah Lauren menelpon atau tidak.

“Bu, Lauren tadi nelpon gak?

“Gak tuh”

“Kenapa ya dia gak kerumah? Biasanya dia datang”

“Dia udah capek ngingatin dan bujuk kamu kali,habisnya kamu tuh ngurung diri ajah terus dikamar. Kalo kamu kayak gitu bukan cuma Ibu yang kamu buat sedih tapi juga sahabat kamu tuh, Lauren”

Aku terdiam, perkataan Ibuku ada benarnya juga. Tidak ada gunanya aku berdiam diri dikamar,melimpahkan semua kesalahan padaku. Kak Rio sudah tenang di alam sana. Aku tida bisa menghentikan hidup dan kesehariaanku, aku tidak bisa terus terbelenggu dalam kesedihan. Aku harus bangkit, aku tidak mau membuat orang disekitarku sedih dan ikut murung karena dukaku Ini.

Kuambil handphoneku di meja, ku telpon Lauren. Aku ingin bertemu dengannya. Ingin meminta maaf atas sikapku selama ini dan bertemu dengannya.  

“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif….”

Ku coba lagi menelpon Lauren namun tetap sama respon dari operator yang menandakan bahwa handphonenya mati. Tanpa pikir panjang aku langsung melaju kerumahnya. Mbok Sri bilang Lauren tak ada dirumah. Aku coba berpikir dan menebak kemana perginya Lauren. Mungkin dia sedang jalan sama Kak Gilang, ku coba menelpon Kak Gilang mungkin saja saat ini Lauren sedang mengadu atau menangis di hadapan Kak Gilang karena sifat cuekku seminggu ini.

“Halo, Kak Gilang, Lauren sama Kakak gak saat ini” tanyaku to the point

“Gak, Lauren gak sama aku, justru aku mau nanya sama kamu Va, Lauren udah 2 hari gak kekampus”

Sontak aku kaget, kemana Lauren? Dirumah tidak ada. Dia menghilang kemana. Setelah mengetahui bahwa Kak Gilang tidak mengetahui keberadaan Lauren, ku tutup telpon tanpa berbasa basi. Aku tahu Kak Gilang masih ingin berbicara denganku,mungkin ia ingin juga tahu keadaan Lauren tapi saat ini kepalaku hanya di isi oleh Lauren. Aku tak mampu berkata panjang dengan Kak Gilang. Ku panngil Mbok Sri yang baru saja masuk ke dapur.

“Mbok, Lauren gak bilang mau ke mana gitu?”

Mbok Sri berpikir memutar matanya keatas berharap mengingat kata-kata yang diucapkan Lauren hendak kemana

“Gak tuh, Mbak Lauren perginya naik mobil. Bawa ransel. Kayak mau travelling gitu”

“Ya udah Mbok, Makasih ya”

Aku masih belum mengerti kenapa Lauren harus bepergian sendiri. Kemana-mana dia pasti mengajakku. Aku mulai gelisah. Pikiranku buntu aku tidak bisa menebak kemana perginya Lauren. Ku putuskan menelpon Kak Gilang lagi

“Halo Kak, Lauren udah 2 hari gak pulang kerumah,Mbok Sri bilang Lauren pergi bawa ransel gitu, aduhh aku khawatir banget nih”

“Kamu tenang yaa, kita cari Lauren sama-sama.Kamu dimana sekarang?”

Aku memberitahu Kak Gilang bahwa aku dirumah Lauren. Dia menyuruhku untuk tetap disitu. 10 menit kemudian Kak Gilang muncul dengan motor matic birunya. Langsung ku samperi kak Gilang yang baru saja mematikan mesin motornya.

“Kak, sumpah aku khawatir banget, gak biasanya Lauren pergi seperti ini tanpa memberitahu aku. Kalau pun dia akan pergi dia pasti ngajak aku kak”

Kak Gilang menenangkanku. Dia menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu

“Kak Gilang beneran gak ngerti kenapa Lauren menghilang. Kita juga sama sekali gak ada masalah”

“Kalau kak Gilang gak berantem sama Lauren, terus Lauren kenapa tiba-tiba menghilang?”

Kak Gilang terdiam.Tanpa kusadari kepalaku kusandarkan ke bahu Kak Gilang, Kak Gilang hanya menepuk pundakku.

“Kak aku takut Lauren kenapa-napa, bagaimana kalau ada hal buruk menimpa dia?”

Kak Gilang langsung  memegang bahuku dengan kedua tangannya, matanya menatapku serius.

“kamu jangan ngomong kayak gitu, Lauren gak bakal kenapa-napa kok, percyalah”

Langsung kupeluk Kak Gilang. Aku tak tahu apa yang sedang aku lakukan saat ini. Mungkin hal bodoh yang dilakukan oleh seorang wanita yang baru saja ditinggal kekasihnya, mungkinkah ini efek karena aku kesepian, aku merindukan sosok Kak Rio. Dan Kak Gilang tiba-tiba terlihat seperti Kak Rio. Kak Gilang sedikit kaget ketika kupeluk. Ada gerakan mengelak dari tubuhnya namun ia tak sanggup untuk melepaskan pelukanku karena aku terlalu tiba-tiba. Kurasakan aroma parfum Kak gilang sangat menentramkan pikiranku. Aku tahu ini adalah aroma parfum yang dipilih oleh Lauren. Pelukanku makin erat. Kali ini aku benar-benar menikmati pelukan itu. Aku suka sama Kak Gilang, singkatnya begitu. Jantung Kak Gilang berdegup kencang, aku tahu dia sangat deg deg degan dan tidak tahu harus berbuat apa. Kudengar langkah kaki dari ruang tamu, itu pasti Mbok Sri dan ia pasti melihatku dari balik jendela memeluk Kak Gilang tapi tak nongol ke teras. Untuk pertama kalinya aku ingin memiliki apa yang dimiliki Lauren yaitu Kak Gilang.

            Kak Gilang cepat-cepat melepas tanganku dari tubuhnya. Aku tahu dia sudah tidak nyaman atau dia tahu kalau aku tak berhenti memeluknya orang yang melihat akan salah paham terutama Lauren.

“Va, maaf udah ya”

“Kak, Aku suka sama Kakak” kataku spontan mengutarakan isi hatiku

Kak Gilang lagi-lagi terdiam. Pasti ia tidak percaya bahwa aku akan tiba-tiba mengutarakan isi hatiku padanya disaat yang tidak tepat ini atau dia tidak percaya kalau aku, sahabat Lauren, akan menikam Lauren dari belakang seperti ini.

“Aku beneran suka sama Kak Gilang”

“Va, aku tahu kamu lagi stress banget, Kamu masih rindu sama Rio & kamu juga stress karena Lauren menghilang kan?

“Gak, aku beneran suka sama Kakak. Aku merasa Lauren terlalu beruntung mendapatkan semuanya, termasuk cinta dari Kak Gilang”

“Maaf Va, aku akan menganggap kejadian barusan tidak pernah terjadi. Aku sangat mencintai dan menyayangi Lauren”.

Aku marah mendengar ucapakan Kak Gilang barusan. Itu sungguh meukai harga driku. Aku berpikir untuk menceritakan masalah mimpi Lauren ke Kak Gilang. Agar ia ilfeel sama Lauren. Akhirnya aku bertekad aku harus memberitahu Kak Gilang kebenaran yang selama ini aku dan Lauren tutupi Aku ingin Kak Gilang mengangap Lauren itu menakutkan dan mengerikan. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku bisa menikam Lauren seperti ini tapi Lauren tidak seharusnya mendapatkan segalanya dalam hidup ini.

“ehmm… Kak sebenarnya Lauren tuh sebenarnya punya mimpi aneh Kak, dia itu bisa melihat orang yang akan meninggal di mimpinya. Seorang nenek tua datang di mimpi Lauren dan memberitahukan orang disekitar Lauren akan meninggal dan penyebab kematiaannya”.

Ku hentikan kalimatku sejenak,ku cek ekspresi Kak Gilang rupanya dia tenang-tenang saja dia mendengarkan ceritaku tak ada tanda-tanda dia ketakutan. Kulanjutkan ceritaku. Sepertinya harus kubumbui ceritaku ini

“Semua orang disekitar Lauren akan meninggal Kak, contohnya Mang Asep mungkin sebentar lagi Aku atau Kakak yang bakal meninggal”

“Kok bisa Lauren mimpi seperti itu? Itu pasti berat buat dia. Dia pasti ketakutan banget. Aku seharusnya berada disisinya. Aku seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman untuknya untuk bercerita”

Tak kusangka Kak Gilang akan berkata seperti itu. Kupikir dia akan menganggap Lauren menakutkan dan gila tapi dia justru menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi teman curhat untuk Lauren. Tak kusangka Lauren sangat beruntung memiliki seorang kekasih yang betul-betul mencintainya.  Aku jadi semakin iri sama Lauren.

“Kak Gilang seharunya takut dong, kita bisa ajah jadi korban Kak kalau dekat-dekat sama Lauren”

Kak Gilang malah marah padaku. Dia menganggapku bukan sahabat yang baik. Aku telah menusuk Lauren dari belakang. Aku tidak pantas menerima kebaikan dari Lauren selama ini katanya seperti itu. Aku semakin bertambah emosi, kukepalkan tanganku ingin rasanya kubunuh saja Lauren itu.

Sebuah mobil hitam masuk ke area rumah Lauren. Perhatian Kak Gilang langsung teralih ke mobil tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat Lauren turun dari mobil tersebut. Kak Gilang langsung memeluk Lauren yang baru turun dari mobil. Lauren membalas pelukan itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat Lauren kembali. Dalam hati aku berharap dia seharusnya tidak kembali.


Memori Memanggil

Hari selasa aku dan Lauren tak ada jadwal kuliah. Kuputuskan untuk kerumah Lauren.  Jika tak ada jadwal kuliah Lauren selalu mengajakku ke rumahnya hanya sekedar mengobrol atau belajar make up bersama. Diperjalan kutelpon Lauren, ku pastikan gadis gila itu sudah bangun sebelum ku acak-acak rambutnya.

“Ren, gue mo kesitu yaah, gue udah dijalan nih”

“Biasanya juga loe langsung main nerobos ajah dirumah gue,gak pake nelpon dulu. Tumben hari ini loe nelpon dulu”

“Gue mo mastiin loe udah bangun, biasanya hari selasa kan loe tidur ampe siang”

“enak ajah, gue bukannya males tapi gue hanya nikmatin waktu libur. Udah ahh loe dateng ajah”

Lauren menutup dulun telponnya. Diperjalan ku putar lagu Bruno Mars 24k magic. Lagu ini menambah semangatku di pagi ini. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mulutku bersenandung sesekali ku goyangkan badanku mengikuti alunan lagu. Rumahku dengan rumah Lauren jaraknya tidak jauh hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai ke rumah Lauren. Sewaktu SD dulu rumahku cukup jauh dengan rumah Lauren. Setelah Ayah meninggal, ku minta Ibu untuk menjual rumah dan membeli rumah didekat rumah Lauren. Rumahku yang dulu sangat jauh dari sekolah dan rumah Lauren. Sehingga butuh 20 sampe 30 menit perjalanan untuk Mang Asep dan Lauren menjemputku. Selain itu, aku tidak memiliki banyak teman seusiaku di komplek rumahku yang dulu.

“Ren…..ren…. kangen…..” teriakku masuk kedalam kamar Lauren sambil memeluk Lauren yang menatap layar handphonenya

“apaan sih loe, kek gak ketemu seminggu ajah”

“gue kangen mulu sama loe tahu gak. Ihh loe bau pesing, loe ngompol ya?”

“enak ajah , sini loe gue jitak pal aloe” Lauren tak terima ku bilangi bau. Dia menarikku dan memukulku.

Pagi yang sangat berisik selalu terdengar dari kamar Lauren jika aku datang. Aku senang saja menjahili gadis gila itu. Terdengar dari dapur Mbok Sri memanggil kami sarapan. Seperti biasa jika aku datang ke rumah Lauren, Mbok Sri selalu menyiapkan kami sarapan. Jika aku tak datang, Mbok Sri tidak membuatkan Lauren sarapan karena Lauren biasa menyiapkan sarapannya sendiri katanya biar Mbok Sri betah tinggal dirumahnya.

“Masa sarapan ajah mesti dibuatin” kata Lauren yang mandiri sejak kecil

“ Mbak Reva, ayo sarapan” teriak Mbok Sri dari dapur

“Ia mbokkkk” jawabku

Ku timpuli Lauren dengan bantal dan langsung berlari kedapur sebelum dia balas membanting lemari atau alat berat kepadaku

“wihhh hari ini sarapannya gak pake susu lagi ya?”

“Diminum ajah, biasanya juga langsung ngerocos ajah”

Aku tidak mengerti kenapa Mbok Sri tiba-tiba judes kepadaku. Mbok Sri yang super santun tiba-tiba berbicara seakan akan menantangku.

“Mungkin saja Mbok Sri sedang ingin lebih akrab denganku” pikirku

“Loe mah apa ajah enak, makanan expired ajah loe makan” timpal Lauren yang muncul dari belakangku

Aku hanya tersenyum tanpa membalas karena memang kenyataan sudah seperti itu dan aku tidak sanggup untuk beradu lagi dengan Lauren aku sudah sangat lapar. Semalam aku tak makan malam karena sibuk mengerjakan tugas dari dosen killer, Pak Burhan. Aku adalah orang yang sangat jarang makan malam apalagi dirumah hanya ada aku. Ibu sibuk mengurusi butiknya yang akan buka cabang lagi di Makassar dan di Jakarta. Semenjak Ayah meninggal, Ibulah yang bekerja keras membiayaiku. Sehingga Ibu seing sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan mengurusi aku. Aku tak tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang, justru aku mendapatkan kasih sayang dari Sahabatku, Lauren, Mang Asep yang seperti Ayahku dan  Mbok Sri. Aku mengerti Ibu bekerja keras agar aku hidup dengan enak, sekolah tinggi dan mencapai cita-citaku. Ibu selau pergi ke kantor setelah aku kesekolah, dijemput oleh Mang Asep dan Lauren. Itulah sebabnya Ibu sangat senang aku berteman dengan Lauren karena aku tidak jadi kesepian dirumah. Sepulang sekolah biasanya aku mampir kerumah Lauren, malamnya Ibu datang menjemputku. Biasanya Lauren menemaniku bermain dirumah dan akan pulang jika Ibu sudah pulang. Jika Mang Asep gajian kami ditraktir makan Es roti dan bermain seharian ditaman.

“Piringnya langsung dicuci ya” kata Mbok Sri menatapku tajam sambil berlalu dari meja makan

Tidak Biasanya Mbok Sri menyuruhku mencuci piring bekas makanku. Ada apa dengan Mbok Sri hari ini. Sepertinya dia membenciku. Ku senggol tangan Lauren yang sedang mengolesi rotinya dengan selai anggur

“Mbok Sri kenapa sih? Dia jutek banget sama gue ni hari?

“Masa sih, biasa aja kali”

“dia tuh kek jengkel banget am ague, terus pas makan tadi dia gak ngajak gue ngobrol biasanyakan dia selalu nanyain sesuatu kek gue”

 “ Va, kayaknya ingatan gue dikit-dikit balik deh”  kata Lauren membuka pembicaraan

Aku terkaget hingga hampir kutelan bulat-bulat roti yang baru saja ku masukkan kedalam mulutku.

“Serius loe? Apa ajah yang loe ingat? Tanyaku penasaraan

“Sedikit ajah sih cuma ingatan waktu kita ekspedisi alam di Desa Citatah. Itupun hanya sebagian”

 “Yang loe inget apa ajah?”

Aku makin penasaran. Mungkin kah Lauren ingatannya akan akan kembali?

“Mmm… gue ingat dikit-dikit yang kita lakukan di Desa Batu“

“Loe ingat gak waktu loe jatuh dari tebing?”

Lauren menggeleng. Lauren langsung berhenti membahas ingatannya yang mulai kembali. Dia kembali fokus ke sarapannya. Aku benar-benar penasaran apa saja yang sudah di ingat oleh Lauren.Namun, aku tidak mau bertanya lebih dalam lagi takutnya Lauren akan memaksa mengingat dan membuatnya sakit. Kalaupun dia ingat pasti aku diberitahu.

Sudah sebulan semenjak Lauren bilang ingatannya sudah kembali sebagian. Namun, saat ini dia tidak cerita ke aku apa saja yang dia ingat lagi. Lauren menghampiriku di kelas. Wajahnya sangat gembira.  

“ Va, gue udah inget semua memori gue yang hilang”

Aku terkejut.  Apakah aku harus bahagia terlebih dulu atau bertanya penasaran.

“Serius loe?” tanyaku memastikan

“Gue serius, Va. Tadi pagi gue bangun tiba-tiba aja ingatan gue kembali.

“Beneren semua ingatan loe kembali? Apa ajah yang loe ingat?”

“Gue ingat masa kecil kita, gue ingat semuanya tapi gue heran kok gue gak ingat kejadian waktu gue jatuh dari tebing ya?”

Aku juga heran mengapa Lauren tidak mengingat kejadian dia jatuh dari tebing.

“Mungkin itu traumatis banget buat loe, jadi loe gak ingat”

“Mungkin ajah sih, semakin gue berpikir gue semakin gak ngerti. Mungkin gak ya penyebab gue mimpi didatangin nenek tua itu karena gue datang ke tempat keramat terus hantu nenek itu yang dorong gue”

“Ah sembarangan ajah loe, gak mungkin lah” balasku meremehkan candaan receh Lauren

“Ato mungkin gue didorong seseorang?menurut loe?

“Masa sih, loe inget kalo loe lihat seseorang ngedorong loe?” tanyaku semakin penasaran

“Gue gak ingat. Gue males ngingat bagian yang itu yang penting kenangan gue ama loe udah kembali”

Lauren melingkarkan lengannya ke leherku, bibir kecilnya menciumi pipiku. Aku senang Lauren ingatannya telah pulih tapi aku masih heran kenapa kejadian dia jatuh dari tebing tidak diingat oleh Lauren. Apapun itu aku tetap bersyukur. Sangat bersyukur.

                                                                                                                 To be continued.............

Komentar